Seorang anak bertanya kepada Bapaknya, alasan mereka sekeluarga selalu duduk di bangku urutan ke-5 dari depan, setiap kali perayaan misa di Gereja. Anak itu memastikan, bahwa orangtuanya akan membawa seluruh keluarga duduk di bangku itu. Mereka berada di tempat itu sebelum misa dimulai. Kaki mereka menginjak lantai yang sama dan kepala mereka lurus ke atap yang sama.
Setelah Misa, Bapak menjelaskan alasannya kepada anak, karena uang seribu rupiah itu. Sejak masih muda dan sebelum kawin, ia yang masih remaja dibuat terkesan dengan perkataan Pastor paroki pada waktu itu. Pastor berkata, bahwa setiap kolekte, yang besar kecilnya bergantung pada setiap orang itu ikut membangun rumah ibadat mereka di paroki. Sejak saat itu ia tidak pernah absen memberikan kolekte seribu rupiah.
Pada waktu ia sudah menikah dan berkeluarga, ia juga membiasakan ketiga anaknya membawa seribu rupiah untuk kolekte setiap kali perayaan Misa. Keluarga itu ikut melihat secara langsung, bagaimana Gereja itu direnovasi sampai mencapai bentuknya seperti saat ini. Biaya renovasi Gereja itu antara lain bersumber dari kolekte yang rutin sebesar seribu rupiah keluarga itu dan keluarga-keluarga lain.
Dengan pemahaman yang demikian, Bapak dan Ibu keluarga itu selalu memastikan, bahwa tempat atau posisi mereka di dalam gereja harus nyata dan tetap. Mereka secara simbolik menempati suatu posisi yang spesial, supaya mengingatkan mereka sebagai bagian yang spesial di dalam keanggotaan Gereja. Biarpun peran dan sumbangan mereka tidak seberapa kepada Gereja, tapi mereka telah jadi bagian yang menyatu dalam pembangunan Gereja sebagai umat Allah. Mereka hanya ingin memastikan, bahwa mereka memiliki Gereja dan sebaliknya Gereja memiliki mereka.
Penjelasan Bapak sungguh membuat anak itu paham dan makin giat di dalam hidup menggereja di parokinya. Bagi kita semua, salah satu tanda kita aktif dan jadi bagian dari Gereja, ialah kita memberikan sumbangan masing-masing. Syaratnya sangat sederhana, yaitu memberikan dengan tulus dan dengan segenap hati. Pemberian itu sangat pantas untuk mewakili diri kita, meski jumlahnya seribu rupiah, tapi menjelaskan diri kita sebenarnya sebagai orang yang mempunyai sesuatu untuk diberikan.
Persembahan janda yang miskin yang dikisahkan di dalam Injil memberikan kita inspirasi untuk memberikan kepada Tuhan apa yang pantas kepada Tuhan dan apa yang membuat hati kita puas serta bahagia.
“Ya, Tuhan, jadikanlah diri kami bermurah hati dan penuh kasih seperti diri-Mu yang selalu bermurah hati dan penuh kasih kepada kami. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

