“Dengan menolong dan membantu orang lain, kita meringankan beban hidup sendiri.” -Mas Redjo
“Terima kasih, Tuhan, karena Engkau perkenankan saya untuk turut serta memanggul salib-Mu,” bisik saya lirih penuh syukur, ketika saya mendengar kabar, bahwa salah seorang keluarga saya divonis dokter terkena kanker ganas!
Saya bersyukur itu tidak indentik senang mendengar kabar buruk itu. Tapi, karena saya dihubungi untuk mendengar, diminta terlibat dan merasakan masalah mereka serta membantu meringankannya.
Dulu, ketika membantu famili yang lain, saya pernah disalahpahami, karena tidak membantu sesuai ekspektasi yang ditolong, bahkan nama saya dijelek-jelekkan.
Saya diam dan tidak membela diri dengan menyanggah, sebab tidak ada gunanya. Sebaliknya hal itu makin perkeruh situasi. Saya juga tidak menyalahkan yang ditolong itu sebagai tidak tahu diri. Karena bagi saya ikhlas itu tanpa sekat, tanpa beban, dan los.
Hal yang sama terjadi sekarang ini, ketika famili yang lain sakit dan divonis dokter kanker ganas. Saya memohon pada istri untuk tidak melihat masa lalunya. Tapi tujuan menolong itu dilandasi motivasi dan niat baik demi kemanusiaan, karena hati yang mengasihi.
Bagi saya pribadi, membantu dan menolong sesama, karena ingin menghadirkan kasih Tuhan secara nyata. Datang dari kesadaran hati, karena kita telah diselamatkan-Nya agar kita menyelamatkan sesama juga.
Dengan ikut serta memanggul salib penderitaan sesama, sejatinya kita memanggul salib Tuhan, sekaligus untuk meringankan beban hidup sendiri.
“Berbahagialah orang yang dikasihi, dipilih, dan diutus Tuhan untuk jadi saluran berkat-Nya!”
Tuhan memberkati.
Mas Redjo

