Teguh di tengah badai kapitalisme dengan kearifan lokal.
‘Tuna satak bathi sanak’ adalah kearifan lokal Jawa yang mencerminkan nilai-nilai luhur kerja sama dan gotong royong. Konsep itu dipakai oleh para pedagang cilik untuk menarik para pembeli, dengan prinsip “rugi sedikit tidak mengapa asal bertambah saudara.”
Nilai-nilai yang ada dalam kegiatan gotong royong memuat nilai kebersamaan, kebahagiaan, keprihatinan, toleransi, kerja bakti, dan tolong menolong. Jika ditilik dari Galatia 6:2 , tuna satak bathi sanak sangat senafas dengan Injil banget. “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.”
Sayang seiring dengan berkembangnya kapitalisme, kearifan ini makin pudar. Kapitalisme yang memberikan kebebasan pada setiap individu untuk bersaing (kompetisi) demi laba sebesar-besarnya, telah merenggut nilai kearifan ‘tuna satak bathi sanak’ yang dihidupi pada para pedagang angkringan, bakul pecel gendong, bakul jamu gendong, … yang sering justru ‘ora pètungan’, tidak hitungan bisnis (laba), tetapi demi satu nilai lebih luhur yakni nilai seduluran. Maka sanggup berkata ‘monggo’ pada mereka yang ‘Icip nggih, nambah nggih’, dan termasuk tidak dihitung.
Beruntung, kearifan ini tetap nampak kokoh kuat dalam praksis pelayan umat Allah. Apa pun tugasnya, terutama yang bersentuhan langsung dengan umat akar rumput, tidak bisa disangkal adanya spirit ‘tuna satak’ (berani berkorban) ‘bathi sanak’ (demi banyak saudara). Spirit itu adalah sebuah kesanggupan yang tidak bisa dimiliki hanya, karena seseorang itu pinter saja atau cukup materinya atau punya jabatan. Kesanggupan itu hanya dimiliki, karena relasi yang akrab dengan Allah, tidak asal mau. Maka tidak heran, ada banyak umat yang sanggup bertahun-tahun menjalani tugas tanpa pituas, karena iklas hatinya. Ketika tugasnya selesai, mereka cukup pamitan, meminta maaf, dan tanpa upacara pisah sambut! Sanggup?
Salam sehat.
…
Jlitheng

