| Red-Joss.com | Apa pun pekerjaannya, jika hal itu dilakukan dengan cinta dan tulus hati, kita tidak bakal menggerutu, kecewa, dan sakit hati.
Hal itu biasa saya lakukan sendiri, ketika saya minta tolong pada anak, tapi tidak segera ditanggapi. Mereka selalu menjawab, “sebentar ya, sabar, lagi tanggung…” Sehingga mereka lupa, dan tidak melakukan hal itu.
Sekali dua saya pernah bersikap cuwek dan membiarkan air galon di despenser hingga kosong, tapi saya kecele. Karena istri yang mengganti galon di bawah despenser itu. Saya lalu komplain. Tujuan saya ingin mengajari anak agar mau bekerja sama, dan mandiri.
“Daripada ribut, malu kedengaran tetangga,” kata istri. Alasan yang lain, karena mereka baru pulang kuliah atau kerja. Sebagai orangtua lebih baik mengalah dan melakukan sendiri.
Saya juga pernah menunda permintaan anak, ketika mereka minta dibelikan suatu barang. Tapi biasanya, jika gagal minta pada Ayahnya, mereka ganti merayu ke Ibunya agar dibelikan barang itu.
Sesungguhnya, istri juga tidak asal membelikan. Mereka ditanya tentang kebutuhan barang penting itu atau sekadar untuk menuruti keinginan. Jikapun membelikan, istri minta syarat pada mereka agar lebih dulu menabung, lalu kekurangannya ditambahi. Alasannya, mendidik mereka agar mempunyai rasa memiliki barang itu dan bertanggung jawab untuk merawatnya.
Saya lalu ingat kembali, ketika EB kelas 1 SMP minta dibelikan hp. Oleh istri, EB diminta membantu menghitung plastik sablon per bungkus @ 100 lembar. Sebagai ongkos kerja, EB diberi keuntungan dari penjualan plastik itu, dan uangnya ditabung. Hingga membeli hp itu terwujud.
“Sebaiknya kita tarik ulur. Mereka sudah dewasa agar tidak lepas kendali dan lupa diri,” saran istri. Memang, jika saya melihat anak malas-malasan dan lelet itu yang membuat saya jadi gemas. Hal itu sesungguhnya yang melukai hati sendiri.
Bagi saya, istri ibarat duta damai, ketika saya dan anak berkonflik. Istri menjembatani dan memberesi masalah itu. Sehingga anak-anak makin dekat dan terbuka pada Ibunya, ketimbang pada Ayahnya.
Dari istri pula, saya belajar makna sabar, tabah, dan percaya diri. Pekerjaan apa pun yang dilakukan atas dasar kasih, maka semua itu jadi makin ringan, tuntas, dan bahagia.
Sesungguhnya hidup bahagia itu diciptakan oleh pribadi itu sendiri. Ketika kita berani mempercayakan pada Allah sebagai pusat hidup ini. Sehingga kita tidak harus takut, khawatir, dan was-was dengan bayangan sendiri yang belum tentu terjadi. Kita mempunyai Allah yang Mahabaik, dan selalu siap sedia menolong kita.
Selalu menjalani hidup ini sebagai pujian dan syukur pada Allah, maka jiwa ini akan diteguhkan-Nya.
Kasih yang tulus ikhlas itu muncul dari kerendahan hati, dan tahan uji.
…
Mas Redjo

