Tulus
| Red-Joss.com | Dalam dunia yang penuh dengan tekanan untuk tampil sempurna, terkadang kita lupa, bahwa tiap orang mempunyai keunikan dan kelemahan masing-masing. Karena itu dalam banyak hal seseorang jadi mudah merasa rendah diri di hadapan orang lain, kalau prestasinya dirasa tak sebaik orang lain. Buruknya dia berusaha menutupi rasa rendah dirinya itu dengan yang irrasional, melampaui batas kemampuan dan batas kewajaran. Merasa harus lebih baik dari wilayah lain. Misalnya, mempunyai taman semèdi, gua doa, ruang matiraga, dan ‘plit komplit’.
“No one can make you feel inferior without your consent.” – Eleanor Rosevelt
Jika kita tulus dan jujur, siapa yang dapat merendahkan kita, kecuali kita setuju?
Orang yang tulus adalah yang bersungguh-sungguh dengan yang dikatakan, dan disebut jujur. Ketika yang dia katakan adalah kebenaran. Tulus itu lebih dari sekadar kata-kata. Dia selalu tulus dalam tindak dan perilakunya. Maka, ketika kita jujur dan tulus, orang lain yang ada di sekitar kita akan merasa selalu nyaman, sebab kita tidak mendua arti.
Prestasi itu bukan sebagai bukti bahwa seseorang itu hebat, tetapi wujud lahir, bahwa dia tulus dan jujur dalam mengabdi.
Tidak mudah, seperti yang Yeremia (17: 9) katakan “betapa rumit hati ini” (deceitful, insidious).
Salam sehat.
…
Jlitheng

