“Tuhan masih datang dan menanti… akankah kita sambut dengan kesibukan disertai kekuatiran, atau dengan hati damai dan siap mendengarkan?”
Bapa Surgawi, Engkau menyingkapkan kebenaran yang indah: Engkau adalah Allah yang ingin tinggal bersama kami. Seperti saat Engkau datang kepada Abraham di pohon tarbantin di Mamre, seperti ketika Yesus masuk ke rumah Maria dan Marta, demikian pula Engkau ingin hadir dalam keseharian kami dengan kelembutan, kebenaran, dan kasih yang mengubah hidup.
Abraham menunjukkan kepada kami apa arti keramahtamahan sejati, tulus, murah hati, dan terpusat pada Allah. Ia tidak melayani para tamunya, karena kewajiban semata, tapi karena kesadarannya, bahwa ia sedang menjamu Yang Ilahi. Lewat sikap ini, ia memberi teladan bagi kami tentang cara menyambut-Mu: dengan hati yang peka akan kehadiran-Mu, bukan hati yang terjebak dalam keluhan dan kepahitan.
Sebaliknya dengan Marta, meski niatnya baik, tapi ia jadi gelisah dan frustrasi, karena terfokus pada diri sendiri. Namun, Tuhan Yesus tidak mempermalukannya. Justru Ia memanggilnya dengan lembut kepada sesuatu yang lebih: bukan meninggalkan pelayanan, tapi menemukan kembali motivasi yang sejati. Maria, dengan duduk tenang di kaki-Mu, menunjukkan kepada kami sikap sejati seorang murid, memilih untuk memberi perhatian penuh pada-Mu, tanpa dibebani oleh ekspektasi sosial.
Kisah Injil ini menyimpan makna yang lebih dalam daripada sekadar dinamika antar saudara. Ini adalah momen inklusi yang radikal. Maria duduk di tempat yang biasanya hanya diisi oleh laki-laki, di kaki sang Rabi. Engkau, Yesus, tidak menolaknya. Engkau menerimanya. Bahkan Engkau meneguhkannya. Engkau menyatakan, bahwa “Maria telah memilih bagian yang terbaik dan itu tidak akan diambil darinya.”
Ini adalah pernyataan yang mengguncang pada zamannya, dan tetap mengubah hidup hingga kini. Sebab di dalam Engkau, Tuhan tidak ada lagi laki-laki atau perempuan, Yahudi atau Yunani, hamba atau orang merdeka. Semuanya satu di dalam Engkau. Semuanya dipanggil untuk mendengarkan. Semuanya diundang untuk duduk di kaki-Mu dan bangkit untuk melayani dengan motivasi dan tujuan yang benar.
Bapa, berilah kami mata yang mampu mengenali kehadiran-Mu dalam orang-orang dan peristiwa yang sering mengganggu kesibukan kami. Anugerahkanlah kami kebijaksanaan untuk memilih ‘satu hal yang perlu’ mendengarkan terlebih dahulu, mengasihi dengan sungguh, dan melayani tanpa gelisah. Jangan biarkan kami tertipu oleh hal-hal yang tampaknya penting, tapi justru menjauhkan kami dari-Mu.
Yesus, seperti Engkau pernah berjanji kepada Abraham, “Aku akan datang kembali kepadamu,” tolong kami untuk percaya, bahwa Engkau sungguh datang saat ini—dalam Sabda-Mu, dalam Ekaristi dan Sakramen Tobat, dalam wajah orang miskin, dan dalam diri Imam yang membawa nama-Mu. Biarlah kami menyambut-Mu bukan dengan penampilan, melainkan dengan damai. Bukan dengan kesombongan, melainkan dengan kehadiran yang penuh doa.
Demi Kristus, Tuhan kami, kedamaian kami dan bagian terbaik kami, kami berdoa. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

