| Red-Joss.com | Hari terakhir temu keluarga, saya sempat berbincang dengan ipar yang terdera lelah rohani yang dalam. Sampai dia mengalami tidak bisa tidur panjang yang amat menyiksa, lima bulan lamanya.
Dengan hati terpana saya mendengar dan merasakan betapa tidak mudahnya yang dia alami itu.
Sesekali saya menyela, saat itu dia pasti sedang di masa-masa yang amat sulit atau saat-saat yang begitu menyakitkan. Dia sepertinya merasa begitu sendiri, karena tidak ingin ada yang tahu atau tidak satu orang pun mengetahui masalahnya.
Mungkin dia merasa ada sesuatu yang berat yang membuat dia merasa tersiksa karenanya.
Semua terasa begitu sukar yang membuat Tuhan seakan tak peduli, bahkan tidak ada.
Lalu dia mulai bertanya, “Di mana Engkau Tuhan saat aku mengalami beban berat begini?”
“Mengapa aku memikul beban seberat ini Tuhan? Apakah Engkau masih ingat dan peduli padaku, Tuhan?”
Atau mungkin dia sudah akan mengatakan: “Aku sudah lelah Tuhan. Aku capek. Aku sudah tak sanggup lagi.”
Dia mungkin sudah tidak ingin percaya pada apa pun dan siapa pun, juga kepada-Nya.
Sepertinya dia sedang merasakan lelah rohani, lelah yang disebabkan oleh hilangnya keinginan atau berkurangnya kekuatan berpikir, sehingga tidak dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan yang menuntut kekuatan jiwa untuk menyelesaikannya.
Bersyukur karena dia ditopang oleh istri yang setia. Aku tahu dia tidak pandai berkata-kata, tetapi istrinya sangat pandai menimbang rasa dan berbagi derita. Itulah keuntungan baginya.
Istri dan anak-anaknya, saya yakini telah menghadirkan kepedulian Tuhan dengan mengatakan: “Datanglah kepada-Ku kalian yang letih dan berbeban berat, Aku akan melegakan kamu.”
Salam sehat dan penuh percaya.
…
Jlitheng

