“Melihat kemurahan hati Tuhan dari hal-hal baik, karena anugerah-Nya luar biasa.” -Mas Redjo
Resepnya adalah, kita berani untuk memercayakan dan menyerahkan hidup kita sepenuhnya pada Tuhan.
Selalu untuk melihat kemurahan hati Tuhan dari hal-hal baik, dan ainul yakin. Karena sesungguhnya peristiwa yang terjadi di dunia ini adalah ketetapan-Nya.
Saya meyakini seyakin-yakinnya dengan mencontoh seorang janda miskin yang dipuji Tuhan Yesus. Ia memberi bukan dari kelebihannya, melainkan dari keikhlasan hatinya (Mark 12: 43).
Prinsip saya sederhana. Ketika kita membiasakan diri berbuat baik dan ikhlas hati, maka kebaikan dan hal-hal baik itu akan mempertemukan kita dengan pribadi-pribadi baik, dan mengantar ke sumber kebaikan itu, yakni Tuhan yang Maha Baik.
Seperti yang terjadi seusai Lebaran lalu. Pagi hari saya ke rumah Bos. Padahal sudah 3 bulan saya tidak bekerja padanya. Saya terpaksa membantu Ibu memanen padi di sawah. Karena adik perempuan saya yang serumah dengan Ibu itu ditinggal pergi suaminya, akibat konflik keluarga. Pekerjaan di sawah jadi terbengkelai.
Ketika subuh tadi Ibu menanyai saya, hendak pergi ke mana? Dengan santai saya menjawab, ke rumah Bos. Jika Bos sudah mempunyai sopir baru, saya akan mencari pekerjaan di tempat lain.
Selain untuk bersilaturahmi, saya juga mau meminta maaf yang sebesar-besarnya pada Bos, karena izin panjang tanpa pamit, apalagi menjelang Lebaran, dan ramai kiriman barang.
Saya juga siap didamprat oleh Bos, meski saya tidak bekerja di tempat Bos lagi. Prinsip utama saya adalah minta maaf dan pamit. Karena saya datang bekerja dengan baik, dan ke luar juga harus baik.
Ternyata Bos sendiri yang membukakan pintu pagar, karena ART belum datang. Ia tampak kaget melihat kedatangan saya.
“Pagi, Pak. Sebelumnya saya mohon maaf sebesar-besarnya…,” kata saya kikuk, dan malu. Bos menatap tajam, tapi menerima uluran tangan saya.
Ajaibnya, bahkan di luar perkiraan. Semula saya bermaksud meminta pamit, setelah saya menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya. Tapi tidak diizinkan Bos, bahkan saya diminta untuk jadi sopir keluarga.
“Jadi saya tidak …?” saya tergagap, dan segera mengucapkan banyak terima kasih.
Rezeki yang lain adalah, saya diberi amplop THR oleh Bos!
(Kisah KP)
Mas Redjo

