Kegelisahan setelah jatuh dalam dosa, yang ditinggalkan adalah rasa bersalah, menyesal, dan ketidak-mampuan untuk memandang kasih Tuhan.
Hal ini berbeda, ketika digoda supaya berbuat dosa. Sama sekali tidak ada yang didengarkan. Tidak peduli Tuhan ada atau tidak. Disingkirkan begitu saja, dasar iman atau pengalaman iman yang dimilikinya.
Bagi yang tidak beriman, barangkali tidak masalah, tapi bagi yang beriman, sungguh meninggalkan kegelisahan.
Pertanyaannya, mengapa kedosaan itu terulang?
- Pertama: karena si jahat tidak pernah berhenti menggoda.
- Kedua: karena iman yang dimiliki masih mudah diberdaya oleh kenikmatan yang sesaat.
- Ketiga: karena tidak taat pada suara hati yang sudah mengirimkan pesan untuk memilih yang baik.
- Keempat: roh begitu kuat, tetapi daging sangat lemah.
Pemulihan dari situasi berdosa menuju kepada pertobatan itu dibutuhkan yang namanya kepercayaan diri. Bahwa kasih Tuhan begitu nyata bagi yang berdosa. Jika kasih Tuhan tidak ditanggapi, maka kita mengalami hari-hari yang gelap. Bahkan, kegelisahan demi kegelisahan itu akan menciptakan rasa takut yang luar biasa. Sehingga bagi siapa yang rindu Tuhan dipulihkan dari kedosaannya itu harus bersikap tenang dalam hening dan mengatakan secara berulang-ulang, “Yesus, aku ingin kembali”. Bukti dari pemulihan itu terjadi, ketika di hati tidak ada lagi kegelisahan, tapi perasaan damai.
Rm. Petrus Santoso SCJ

