Kitab Yesaya menggambarkan Allah sebagai Tuhan yang tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Tuhan menyatakan, bahwa Ia akan memulihkan umat-Nya, membangun kembali bumi, dan membawa harapan bagi mereka yang merasa tertinggal atau terlupakan. Allah tidak hanya menciptakan dunia, tapi juga terus merawat dan memperbaruinya. Ia mengikat perjanjian dengan manusia yang percaya kepada-Nya, sebuah janji, bahwa kehidupan akan dipulihkan dan masa depan akan dipenuhi harapan.
Perjanjian Allah dengan manusia mencapai puncaknya dalam kedatangan Yesus Kristus ke dunia. Yesus datang bukan hanya sebagai Guru atau Nabi, melainkan sebagai tanda nyata kasih Allah bagi manusia. Melalui hidup dan karya-Nya, Yesus mengajarkan kebenaran Allah di hadapan banyak orang. Ia mewartakan kasih, pengampunan, dan keselamatan bagi semua orang. Namun, kebenaran yang Ia bawa tidak selalu diterima dengan baik oleh semua orang.
Dalam Injil diceritakan, bahwa orang-orang Farisi sering menentang Yesus. Mereka menuduh-Nya melanggar aturan Sabat dan bahkan menuduh-Nya menghujat, karena mengatakan, bahwa diri-Nya satu dengan Allah. Bagi mereka, ajaran Yesus dianggap mengganggu tatanan yang telah mereka pegang. Penolakan ini akhirnya membawa Yesus pada penderitaan yang besar. Ia dihukum mati dan wafat di salib. Namun salib bukanlah tanda, bahwa Allah meninggalkan manusia. Melainkan justru di sanalah kasih Allah dinyatakan dengan paling jelas. Meskipun Yesus mengalami penderitaan dan kematian, Allah tidak pernah melupakan umat-Nya. Kebangkitan Yesus jadi tanda, bahwa kasih Allah lebih kuat daripada kematian. Janji Yesus tetap berlaku: Ia akan menyertai kita sampai akhir zaman.
Sering kali kita juga merasa seperti bangsa Israel yang berkata, “Tuhan telah meninggalkan dan melupakan aku.” Tapi Tuhan menjawab dengan sangat lembut: seorang Ibu mungkin bisa melupakan anaknya, tapi Tuhan tidak akan pernah melupakan kita. Kasih Allah jauh lebih setia daripada segala sesuatu di dunia ini.
Ada seorang anak kecil pernah tersesat di pasar yang ramai. Ia menangis, karena merasa sendirian dan takut ditinggalkan. Tapi sebenarnya Ibunya itu terus mencarinya di antara kerumunan orang. Ketika akhirnya sang Ibu menemukan anak itu dan memeluknya, anak itu baru menyadari, bahwa ia tidak pernah benar-benar ditinggalkan.
Demikian pula dalam hidup kita. Kadang kita merasa Tuhan jauh atau tidak peduli, tapi sesungguhnya Tuhan selalu mencari, menjaga, dan mengingat kita. Dalam setiap keadaan, Tuhan tetap setia kepada janji-Nya untuk menyertai kita.
“Ya, Allah yang Mahakuasa, jauhkanlah kami dari segala tipu daya si jahat yang mengancam dan membawa kami jauh dari Tuhan Yesus Kristus, Juruselamat kami. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

