Jika aku mengundang seseorang, harapanku adalah pribadi yang diundang itu bisa datang. Jika berhalangan, ia berkenan memberi alasan yang bisa diterima.
Yang menyedihkan itu adalah sudah diundang, janji mau datang, tapi akhirnya tidak datang juga tanpa alasan yang jelas. Tidak ada pesan atau berita. Bahkan tidak ada ucapan minta maaf. Dia telah membuatku kecewa, bertanya-tanya, dan membuatku jadi agak curiga, ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi?
Setiap pribadi yang tidak memenuhi undangan, biasanya mereka akan kehilangan kesempatan, atau momen istimewa itu.
Sesungguhnya kita diundang, karena dikenal dan dihormati oleh pribadi yang mengundang. Apalagi, jika yang mengundang itu sudah kita kenal, pasti kemudian relasinya jadi makin dekat, akrab, dan hangat. Ibarat lengket seperti perangko.
Setiap pribadi dan bahkan setiap bangsa senantiasa diundang oleh Tuhan. Dipastikan semua pintu sudah dibuka dan ‘Gerbang Kota Suci’ bisa dimasuki oleh siapa saja.
Begitu pula di setiap Hari Minggu, pintu Gereja yang suci dibuka untuk semua. Kita bisa datang dari mana pun, lalu datang dan berdoa bersama-sama dengan yang lain dalam pesta Anak Domba, yaitu Ekaristi.
Apa yang kemudian dirasakan? Relasi kita makin dekat, akrab dan hangat dengan Tuhan Yesus.
Faktanya tidak semua orang itu tertarik untuk datang dengan alasan yang masuk akal, tidak masuk akal, hingga dengan alasan yang dibuat-buat. Belum lagi ada yang tidak peduli. Tapi kemudian, “Pintu itu ditutup dan dia berteriak-teriak.”
Apa jawaban Tuhan, “Siapa kamu? Aku tidak mengenalmu. Pergilah, karena kamu sering berbuat dosa.”
Kita lalu berusaha menjelaskan, tapi yang kita jelaskan itu membuat Tuhan dengan tegas berkata, “Aku tidak mengenalmu.”
Rasanya, di dalam hidup kita, jika ‘tidak mengenal Tuhan’, hanya bahagia di luar, tapi di dalam hati ini sedih, gelisah, tidak tenang, kering, haus, dan didera rasa takut. Tapi jika tidak memiliki rasa itu sama sekali, sebenarnya kita bukan manusia (maaf) lagi yang mempunyai tubuh dan roh, yang mempunyai rasa jasmani dan rohani, pengalaman batiniah dan spiritual. Kita bisa disebut sebagai “Anak yang hilang” itu.
Sebagai anak yang hilang, biasanya kita tidak tahu ‘jalan kembalinya’.
Sahabat, pada situasi seperti inilah, Tuhan Yesus, Sang Gembala yang baik itu sedang mencarimu. Berilah ‘tanda’ supaya dirimu segera ditemukan kembali. Amin.
Macau, 24 Agustus 2025
Rm. Petrus Santoso SCJ

