| Red-Joss.com | Pagi itu, ketika Guru Bijak tengah menyudahi olahbatin, seorang cantrik memberi tahu, bahwa ada tamu sedang menunggunya di serambi depan.
Guru Bijak itu lalu menemui tamu itu. Seorang wanita muda dengan anaknya … yang berkebutuhan khusus! Ia tersenyum renyah, menyalami wanita itu lalu duduk.
Wanita muda itu bergetar. Ia seperti tengah mengendalikan guncangan hatinya. Ia menarik nafas panjang, menceritakan maksud tujuannya dan menanyakan, “Apakah anak ini buah dari karma nenek moyang atau perbuatannya ketika remaja?”
Guru Bijak itu tersenyum arif, dan menggoyangkan kepala.
“Maaf, Ibu, pemikiran ini sungguh keliru sekiranya kita menyalahkan nenek moyang. Apalagi, jika hal itu berasal dari dosa asal. Karma? O, tidak! Memang ada sebagian orang yang mempunyai anggapan seperti itu. Karma dari perbuatan orangtua. Tapi ini bukan karma. Jangan menyalahkan diri sendiri. Tuhan itu Mahakasih. Justru anak ini lahir, karena Tuhan menunjukkan kasih-Nya!”
Ibu muda itu terperangah, menatap Guru Bijak kurang memahami maksudnya.
“Memang hal ini tidak mudah untuk dipahami. Kita mesti berpikir jernih agar memperoleh nur, hidayah-Nya. Sehingga mampu mencernanya.”
“Ibu semestinya bersyukur, karena memperoleh kepercayaan dengan lahirnya buah hati ini. Karena tidak semua wanita mampu menjadi seorang Ibu dan melahirkan anak. Tapi, kenapa fisik anak ini kurang sempurna? Kenapa harus disesali pula? Rasa bersyukur itu yang seharusnya membentuk kesadaran kita berpikir positif. Hikmah di balik semua ini. Meski ada kekurangan, ia juga pasti mempunyai kelebihan.”
“Maaf, jika Ibu merasa bersalah dengan puteranya ini, saatnya Ibu perbaiki kesalahan itu untuk merawat dan membesarkannya. Untuk memberbaiki dan merubah keadaaan dengan menggali talenta puteranya.”
”Ibu juga jangan merasa terbebani. Apalagi anak dianggap aib. Lebih baik hal itu disyukuri agar kasih Tuhan dinyatakan.”
Ibu muda itu mengangguk takzim. Air matanya mengembang. Ia seperti disadarkan dari tepian jurang.
Jujur, mengopeni anak yang berkebutuhan khusus itu berat. Tatapan mata banyak orang seperti mencemooh dan mengadilinya. Ia harus sabar, tabah, dan tegar. Saatnya ia bangkit dan berjuang demi masa depan anaknya.
Sekali lagi dihelanya nafas panjang. Tidak ada gunanya mengeluh dan menyesali diri. Tidak ada gunanya pula ia meladeni omongan miring orang-orang itu.
Semangat juangnya bangkit. Lebih baik segala nikmat Allah itu disyukuri dengan ikhlas. Ia harus membuktikan diri, bahwa anaknya mampu berprestasi dan sukses!
Dadanya serasa longgar. Ia pulang dari padepokan dengan makin percaya diri, dan optimistis menyambut hari esok yang cerah.
Mas Redjo
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

