“Segala kerajaan dunia akan runtuh, tapi Kerajaan Allah bertahan selamanya.”
Sabda Allah kembali membawa kami ke pusat penyembahan sejati yang tidak bertumpu pada yang kelihatan, tapi pada Allah yang Kerajaan-Nya tidak akan pernah berakhir.
Melalui Daniel, Allah menyingkapkan, bahwa setiap kerajaan duniawi yang seindah emas, semegah perak, tembaga, besi, bahkan semegah tanah liat itu
tetap rapuh, sementara, dan akan berlalu. Tapi batu yang “tidak dipahat oleh tangan manusia,” yang menghancurkan seluruh kuasa dunia, menyatakan, bahwa hanya Kerajaan-Nya yang kekal, dan hanya Dia yang memenuhi seluruh bumi dengan kemuliaan-Nya.
Dari Kidung Tiga Pemuda kami lambungkan mazmur:
“Pujilah Tuhan, hai segala karya Tuhan. Muliakanlah Dia selama-lamanya!”
Ini adalah nyanyian hati yang menemukan, bahwa di dalam perapian hidup pun, hadirat-Nya adalah keselamatan mereka,
dan kesetiaan-Nya adalah kekuatan mereka.
“Tuhan, berilah kami iman seperti ini.”
Dalam Injil, Yesus memperingatkan para murid agar tidak terpesona oleh keindahan Bait Allah: batu-batu yang meskipun megah, suatu hari akan runtuh, dan kemuliaan yang suatu hari akan lenyap.
Yesus mengajar kami, bahwa iman tidak boleh bertumpu pada bangunan, rupa lahiriah, atau tanda-tanda tertentu. Sebab segala yang duniawi itu pasti berlalu. Tapi hanya Tuhan, tetap tinggal selama-lamanya.
Yesus juga mengingatkan kami tentang mesias-mesias palsu dan suara yang menyesatkan. Mereka yang mengaku berbicara atas nama-Nya, atau menjanjikan dunia baru, padahal mengabaikan rancangan kekal-Nya. Sungguh begitu banyak suara berebut perhatian kami: berita teror dan hoaks yang membangkitkan ketakutan, komentator yang menabur kecemasan, influencer yang membentuk keinginan kami,
layar ponsel yang lebih sering mencuri hati kami daripada Kitab Suci.
Ya, Allah ajari kami menjaga telinga dan jiwa kami. Tunjukkan kepada kami: suara siapakah yang sesungguhnya kami ikuti? Tolong kami melekat pada Gembala yang mengenal kami, memanggil kami, dan menuntun kami dengan aman.
Ketika Yesus berbicara tentang perang, kekacauan, dan pergolakan, Ia mengajak kami untuk berdiri teguh, bukan untuk jadi panik. Semua itu pengingat, bahwa kerajaan dunia ini tidak stabil, dan rumah sejati kami adalah Kerajaan-Nya yang tak terguncangkan; itu bukannya tanda ketidakhadiran-Nya.
Tuhan, ajar kami penyembahan yang murni, tak terbagi, dan siap berkurban. Biarlah segala yang berlalu membuat kami makin percaya pada Dia yang tidak pernah berlalu. Setiap ketakutan membawa kami lebih dekat kepada Kristus. Setiap kebingungan menuntun kami kembali pada sabda-Mu. Juga setiap guncangan dunia menancapkan hati kami lebih dalam pada Allah, Batu Karang kami.
Bapa, dengan rahmat-Mu, tanamlah hidup kami dalam diri Yesus: kebenaran-Nya, kehadiran-Nya, dan kemurahan-Nya. Biarlah terang-Mu menghalau kegelapan ketakutan kami. Roh-Mu mengobarkan keberanian kami untuk berdiri teguh, menyembah dengan tulus, dan percaya sepenuh hati kepada Kristus, yang hidup dan berkuasa, kini dan selama-lamanya. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

