Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Orang tidak dapat mengabdi kepada Tuhan dengan tidak mengabdi sesama manusia. Tuhan bersemayam di gubuknya si miskin.”
(Tulisan Tangan Soekarno)
…
Di negara berketuhanan (godly state), lebih dari 194 juta rakyatnya tergolong miskin berdasarkan garis kemiskinan yang dirilis Bank Dunia pada Juni 2025 di negara-negara berpendapatan menengah ke atas. Padahal, lebih dari 80 tahun silam, Bung Karno bermimpi indah tentang Indonesia yang bebas dari kemiskinan pada pidato 1 Juni 1945, “Tidak ada kemiskinan di dalam Indonesia merdeka.” Demikian paragraf pertama dari sebuah Analisis Politik oleh Sukidi, Pemikir Kebinekaan, Kompas, Kamis, (23/10/2025), kolom Umum berjudul, “Tuhan Bersemayan di Gubuknya Si Miskin.”
Kemiskinan adalah Luka Kemanusiaan
Sering kali kemiskinan itu diidentikan dengan kegagalan rakyat di dalam suatu bangsa. Tapi sesungguhnya tidak demikian! Hal itu justru sebagai dampak paling serius dari kegagalan sistem ekonomi dan politik dalam suatu bangsa. Demikian, Josef E. Stiglitz, peraih Nobel Ekonomi 2001 dalam the Price of Inequality (2012).
Juga jangan diabaikan, ternyata dari jauh hari, Soekarno-Hatta sudah meletakkan sistem kembar sebagai fondasi Indonesia Raya. Bahwa demokrasi ekonomi perlu menyejahterakan semuanya. Tapi, kita telah salah jalan dengan menerapkan sistem praktik kapitalisme dan sikap nepotisme dalam berpolitik, demikian Sukidi.
Sang peraih Nobel Perdamaian 1993, Nelson Mandela pun mengatakan, bahwa “kemiskinan bukanlah sesuatu yang yang alami. Ia diciptakan oleh manusia dan dapat diatasi serta diberantas melalui tindakan manusia. Lewat tuturan ini, maka kita dapat menyimpulkan, bahwa semuanya ini, justru karena diotaki oleh manusia lewat sistem yang hanya mau menguntungkan pihak tertentu saja.
Kita Butuh Spirit Profetik
“Atas berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa,” demikian sikap batin para pendiri bangsa ini dengan menghadirkan pengalaman ketuhanan dan kemanusiaan secara seimbang. Mari kita mengenang peristiwa 79 tahun silam tepatnya 23 Oktober 1946, kala Soekarno menulis pesan dengan tulisan tangan, “Orang tidak dapat mengabdi kepada Tuhan dengan tidak mengabdi kepad sesama manusia. Tuhan bersemayam di gubuknya si miskin.” Demikian Sukidi.
Dalam Hadis Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, tulis Ali Mustafa Yaqub (2015), “Allah SWT dapat ditemui di sisi orang sakit, orang kelaparan, orang kehausan, dan orang menderita.
Sedangkan Kardinal Suharyo pada 9 Oktober 2025 tentang “Seruan Apostolik pertama Bapak Suci Paus Leo XIV kepada seluruh umat Kristiani untuk mengasihi kaum miskin.” Demikian tulis Sukidi.
Refleksi
Mari kita menyadari, bahwa tantangan bangsa yang majemuk bukan terletak pada perbedaan agama, melainkan pada kepedulian kepada kaum miskin. Saatnya kita terpanggil dalam gerakan bela rasa (compassion) dan solidaritas (solidarity), kemanusiaan lintas agama untuk menyembuhkan luka kemiskinan sebagai bentuk tindakan keadilan kepada sesama. Semoga kita jadi penegak keadilan bagi saudara-saudari dalam kemanusiaan. Demikian Sukidi dalam pesan akhirnya.
“Berbahagialah orang yang berjiwa miskin, karena mereka akan melihat Allah,” demikian Sabda Yesus Kristus dalam Delapan Sabda Bahagia.
…
Kediri, 24 Oktober 2025

