Kita selalu berhadapan dengan hukum dan peraturan di dalam hidup bermasyarakat. Tentu, hukum dan peraturan ini untuk kebaikan bersama. Kita dapat menjumpai pemimpin yang fleksibel dan memiliki pertimbangan kemanusiaan. Namun, kita juga tidak dapat menutup mata dengan pemimpin tertentu yang cenderung legalis dan tidak berprikemanusiaan.
Kita mendengar sebuah kisah tentang komunitas Yesus di dalam bacaan Injil hari ini. Yesus bersama para murid-Nya melewati sebuah ladang gandum. Para murid Yesus yang sedang kelaparan memetik bulir gandum dan memakannya. Hal ini menimbulkan permasalahan antara kaum Farisi dan Yesus. Para murid yang kelaparan dan memakan bulir gandum, tapi Yesus yang disindir melalui pertanyaan mereka.
Tuhan Yesus lalu mengingatkan mereka akan kisah Daud dan para pengiringnya memakan roti yang sebenarnya hanya bisa dimakan oleh para Imam.
Berdasar pada contoh ini, Tuhan Yesus menegaskan, bahwa diri-Nya adalah Tuhan atas hari Sabat. Apa yang harus kita lakukan? Kita harus selalu memiliki pengharapan kepada Tuhan dalam berbagai situasi hidup kita.
Dalam surat kepada Jemaat Ibrani dikatakan, bahwa pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir (Ibr 6: 19).
Santa Agnes yang kita kenangkan hari ini pernah berkata, “Kristus telah membuat jiwaku indah dengan permata kasih karunia dan kebajikan. Saya adalah milik Dia yang dilayani oleh para Malaikat.”
Tuhan, berilah kami hati yang penuh harapan hanya kepada-Mu. Amin.
Ziarah Batin

