“Tuhanlah Terangku, yang membuka mataku, harapan tempat aku percaya, dan keselamatan yang aku nantikan.”
Yesaya menabur harapan bagi umat Tuhan: orang tuli akan mendengar, orang buta akan melihat, dan orang kecil akan kembali bersukacita dalam Tuhan. Penazmur juga menguatkan hati kami: “Tuhan adalah terang dan keselamatanku. Terhadap siapakah aku harus takut?”
Tuhan mengajarkan, bahwa keselamatan dimulai dari penglihatan yang dibuka oleh rahmat. Mata hati yang mampu mengenali kehadiran-Nya, kebaikan-Nya, dan jalan yang Ia siapkan bagi hidup kami.
Dalam Injil, janji itu digenapi. Dua orang buta berseru, “Anak Daud, kasihanilah kami!” Sebuah seruan iman, bukan sekadar seru keputus-asaan. Melainkan mereka menyebut Yesus dengan gelar Mesias, karena mereka sudah melihat dengan mata iman apa yang belum dapat dilihat oleh mata jasmani mereka: bahwa Dialah ahli waris takhta Daud,
pemenuh segala janji, Mesias yang membawa terang bagi yang buta.
Mereka mengikuti Yesus dengan berani sampai ke dalam rumah. Tapi Yesus mengarahkan kembali pusat perjumpaan ini: “Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?” Sebelum mukjizat pada mata, Yesus menginginkan mukjizat pada ‘hati’. Sebelum penyembuhan lahiriah, Ia menginginkan kepercayaan batiniah.
Sungguh sesuatu yang mendalam terjadi. Setelah disembuhkan, mereka tidak kembali pada rutinitas lama. Perjumpaan mereka berubah jadi kesaksian. Penyembuhan mereka berubah jadi misi. Kedekatan mereka dengan Yesus jadi awal transformasi yang terus meluas.
Bapa, kami datang kepada-Mu membawa kebutuhan kami: baik itu sakit, kekhawatiran, luka batin, atau pergumulan hidup lainnya.
Seruan minta pertolongan itu baik, tapi itu hanya pintu awal. Karena setiap seruan kepada-Nya adalah undangan dari Putra-Nya untuk melangkah lebih dekat, percaya lebih dalam, dan mengenal-Nya lebih intim.
Mungkin hari ini kami memohon hal-hal yang sangat praktis…
Tapi Yesus juga bertanya kepada kami: “Percayakah kamu bahwa Aku dapat melakukannya?”
Tolong kami mempercayai waktu-Mu, cara-Mu, dan kehendak-Mu.
Tolong kami percaya, bahwa Engkau bukan hanya sanggup menjawab doa kami, melainkan juga rindu memberikan lebih dari itu: hati yang diperbarui, batin yang diringankan, sukacita yang menetap, dan kasih yang mengubah hidup kami.
Buta dalam Kitab Suci sering melambangkan kebutaan rohani, ketika mata kita tertutup oleh daya tarik harta, kesenangan, kuasa, atau kehormatan. Tanpa penglihatan rohani, hal-hal itu dapat jadi sumber kejatuhan.
Ya, Bapa, berilah kami penglihatan sejati agar mampu melihat karya-Mu, memahami alur hidup kami, dan memandang segala sesuatu dalam terang keselamatan.
Ya, Anak Daud, bukalah mata kami.
Kasihanilah kami.
“Yesus, Engkaulah Andalanku. Amin.”
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

