Begitulah pertanyaan yang muncul. Ada dorongan amat kuat untuk menuliskannya. Saya bertanya kepada Tuhan, “Tuhan, ada apa ya…?”
Banyak jiwa yang harus “dibawa kembali. Harus melayani dengan hati, supaya banyak “jiwa yang bisa kembali.” Maksudnya?
Fakta-fakta ini telah jadi bukti:
- Ada yang pergi, karena sakit hati tidak terlayani.
- Ada yang pergi, karena kecewa dan tidak tersapa selama ini.
- Ada yang pergi dan tidak ada beritanya lagi serta seperti enggan untuk kembali.
- Ada yang pergi, karena tidak merasakan pertumbuhan iman yang berarti.
- Ada yang pergi, karena pernah dimarahi dan diperlakukan dengan tidak adil.
- Ada yang pergi, karena melihat ada begitu banyak manipulasi dan kemunafikan yang terjadi.
- Ada yang pergi, karena iming-iming yang tidak ada kaitannya dengan iman.
- Ada yang pergi lalu berubah dari yang dulu sangat mencintai kemudian membencinya setengah mati.
- Ada yang pergi, karena merasa ternodai.
- Ada yang pergi, karena sudah tidak mau peduli lagi.
- Ada yang pergi, hati kecilnya mau kembali, tapi tidak ada teman yang bisa membawanya kembali.
- Ada yang pergi, karena sudah tidak mempunyai tujuan lagi ke mana harus melangkah.
- Ada yang pergi, tapi masih mengalami pergumulan dan pergulatan batin yang tidak pernah berhenti.
- Ada yang pergi dan tetap gelisah menyalahkan diri sendiri. “Kok diriku akhirnya memilih jalan seperti ini.”
- Ada yang pergi, karena ingin bisa menikah lagi, sebab di tempat sekarang ia terikat dengan ikatan perkawinan yang suci: monogam dan tidak terceraikan.
- Ada yang pergi, karena sudah bulat ini keputusan pribadi.
“Tuhan, ada apa? Apa yang harus aku lakukan?”
Batinku mulai menguraikan:
- Memang ada rekan gembalaku yang tidak melayani dengan hati, sehingga ada yang memutuskan untuk pergi.
- Ada rekan gembalaku yang sudah tidak fokus melayani lagi, sehingga ada yang mengatakan, “lebih baik aku pergi.”
- Ada rekan gembalaku yang mempunyai sikap dan tindakan yang tidak menampakkan lagi kesetiaan serta kesuciaannya sebagai seorang gembala, sehingga membuat banyak orang yang kecewa, lalu pergi.
- Ada rekan gembalaku yang membuat banyak orang tersakiti, karena tidak terlayani, maka kemudian memutuskan untuk pergi.
- Ada rekan gembalaku yang sudah tidak mengejar lagi nilai surgawi, tapi lebih memilih yang duniawi untuk kepentingan pribadi dan keluarganya, sehingga hal ini membuat umat merasa dia bukanlah sosok seorang gembala yang sejati.
- Ada rekan gembalaku yang tidak hidup menurut janji-janji suci yang pernah diucapkannya, sehingga membuat umat terasa terlukai oleh hidupnya.
Intinya:
- Tuhan mengingatkan kembali lewat Sabda-Nya hal “Tuaian memang banyak, tapi pekerjanya sedikit.” Meskipun sedikit para pekerjanya, tapi melayani dengan hati, sehingga banyak jiwa yang bisa dibawa kembali untuk dituai.
- Jika itu yang terjadi, yaitu melayani dengan hati, maka akan dikirimkan pekerja-pekerja lain, orang-orang muda yang akan melanjutkan tugas kegembalaan dan pelayanan ini.
- Jika para rekan gembala sungguh melayani dengan hati, maka dengan sendirinya akan ada banyak jiwa muda yang akan mengikuti.
Sebab …
- Yang dilakukan itu, bukanlah karya pribadi, tapi pekerjaan Tuhan.
- Yang dilakukan ini adalah untuk membawa kembali jiwa-jiwa yang hilang itu untuk dicari dan ditemukan lagi.
Aku, Sang Misionaris Dehonian (SCJ), yang ikut mengambil bagian dalam karya besar Tuhan ini, hadir dengan hati yang terbuka untuk terus melayani dengan hati di kebun anggur Tuhan yang maha luas ini. Juga dengan panenan yang sangat berlimpah.
Batinku menjawab atas pertanyaan yang aku ajukan di atas, “Tuhan, ada apa ya?” Jawabanku adalah “Jadilah seorang pelayan dan gembala yang melayani dengan hati, yaitu dengan hati yang terbuka, sebab cinta Tuhan harus dibagikan, bukan untuk dinikmati sendiri.”
Juga di negeri yang di satu sisi gemerlap penuh kemewahan, tapi di sisi lain penuh tangisan dan perjuangan. Tetaplah hadir dengan hati untuk menyapa-melayani.
Jangan biarkan mereka yang telah pergi dan tidak pernah kembali itu. Tentu aku dan kamu akan merasa bersalah, ketika ada yang pergi dengan kecewa dan membawanya sampai mati.
Janganlah terjadi lagi. Cukup! St. Benediktus, tunjukkan kepada kami jalan yang menuju kesucian melalui “Sang Jalan, Kebenaran, dan Hidup.”
Rm. Petrus Santoso SCJ

