Refleksi ini adalah intisari dari ‘Lima Jari’ itu jadi: gabungan tiga jati diri, yakni rendah hati, tulus dan tekun, yang menciptakan sosok yang tidak hanya kuat secara spiritual, tapi juga teduh secara sosial.
Rendah Hati (Humility):
Ini adalah titik awal. Rendah hati memungkinkan kita untuk mengakui kekurangan dan merasa butuh akan bimbingan Tuhan atau bantuan sesama. Tanpa kerendahan hati, puasa hanya jadi sekadar menahan lapar demi pujian.
Tulus (Sincerity):
Ini adalah mesin penggeraknya. Tulus memastikan, bahwa apa yang kita lakukan bukan karena tekanan sosial atau tren, melainkan murni karena niat batin. Ketulusanlah yang menjaga kualitas sebuah amal saat tidak ada orang lain yang melihat.
Tekun (Perseverance):
Ini adalah penjaganya. Puasa bukan sprint (lari cepat), melainkan maraton. Ketekunan memastikan kita tetap konsisten menjaga lisan dan hati, meski rasa lelah atau godaan mulai memuncak di pertengahan jalan.
Berkah Dalem.
Jlitheng

