Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Ingatlah selalu akan kefanaan hidupmu”
(Amanat sang Kehidupan)
Kisah Topi Tua dan Pria Tua
Tampak seorang pria yang sangat tua yang mengenakan sebuah topi tua sedang tertatih-tatih menuju gubug reotnya. Setiba di sana, dilepaskannya topi tua itu dari kepalanya, sambil berkata, “Wahai engkau, topi tuaku, terima kasihku, karena engkau telah melindungi kepalaku sudah lebih dari setengah abad.”
“Hari ini, terakhir kali aku mengenakanmu. Kini aku akan menggantungkanmu di dinding reot ini, hingga ajal menjemputku.”
Dengan tangan tuanya yang bergetar, perlahan digantungkannya topi tua itu sambil meneteskan beberapa butir air mata.
Di setiap saat kelak, ketika setiap mata yang menatapnya, maka dari dalam mulutnya akan berguman, “Oh ya, itu ada sebuah topi tua di dinding reot.”
“Sejak kapan, ya, topi tua itu berada di situ?”
“Siapakah sang pemiliknya?”
(Dari berbagai Sumber)
Topi Tua serta Makna Filosofisnya
Apa makna topi tua secara filosofis? Topi tua itu mau menyimbolkan sebuah ziarah kehidupan, segetir pengalaman, dan memori akan kefanaan hidup ini.
Juga di balik dan di dalam sana pun terbetik pula sejumlah makna:
- Sebagai Sebuah Memori Hidup. Berupa sebuah pengalaman manusiawi yang mengingatkan kita akan kefanaan dan ketakpastian hidup ini. Bahwa hidup ini sungguh bersifat sementara.
- Sebagai Sebuah Kenangan Abadi. Kenangan yang sanggup membuka kembali kotak kesadaran kita akan hal-hal yang telah lampau, namun yang selalu menggelitik kesadaran kita untuk kembali meliriknya. Ya, secara naluriah, bukankan sebuah kenangan itu biasanya akan selalu dirindukan?
Ya, sebuah topi tua yang tergantung sunyi di sebuah dinding reot, hingga kapankah ia akan berada di sana?
Kelak, tangan siapakah yang akan meraih dan kembali mau mengenakannya?
Refleksi
Bukankah sebuah topi tua itu justru menyimbolkan sebuah “kefanaan dan kesementaraan hidup?”
Bukankah sebuah topi tua dan sebatang tongkat kumal pun akan mengingatkan kita akan suatu kondisi: “tersiksa, merana, tua renta, dan terlupakan?”
Vivere Militare est!
(Hidup itu suatu perjuangan)
Kediri, 26 November 2025

