*Aneh, tapi nyata! Ketika saya nonton hiburan ‘Topeng Monyet’ di lapangan, tiba-tiba saya seperti monyet yang diikat itu.” -Mas Redjo
…
Darah saya terkesiap, dan leher ini serasa diikat. Saya sulit untuk melepaskan ikatan itu. Dalam pikiran, saya madah saja dipaksa menuruti kemauan pemilik yang bertindak sebagai sutradara itu.
Keanehan yang lain adalah, ketika saya tertawa melihat ulah monyet asli yang konyol itu, penonton ikut terbahak kegirangan dan gaduh.
Ternyata penonton itu berhisteria bak kesambet demit. Tidak sekadar terhibur, mereka juga berjingkrak-jingkrak kegirangan seperti menang judol . Tapi ada sebagian dari penonton yang melengos dan pergi menjauh, karena kasihan dengan nasib monyet yang ditarik-tarik itu.
Tiba-tiba muncul kegaduhan dari penonton yang berperilaku seperti monyet itu. Mereka gaduh, saling menyindir, menghina, menghujat, dan saling menjatuhkan melebihi perilaku monyet yang berebut makanan.
Sejatinya, peristiwa itu gambaran nyata di negeri Antah Berantah dewasa ini yang sedang tidak baik-baik saja. Para pemangku kebijakan berbuat ulah dan kegaduhan itu dianggap hal lumrah serta biasa. Mereka tidak pro rakyat, tapi untuk menggembirakan kroni-kroninya. Mereka bekerja untuk mendulang rente, simpati kroninya, dan untuk mencari aman.
Lebih konyol lagi adalah kebijakan itu dibuat tanpa mempunyai dasar hukum yang kuat dan kesannya abal-abal. Buktinya, setelah timbul kegaduhan, peraturan itu langsung dianulir, dibatalkan tanpa rasa bersalah.
Peraturan yang tumpang tindih dari pemangku kebijakan itu dibuat dan diterapkan seakan sekadar uji coba minus kompetensi. Konyolnya, pembiaran itu direstui pimpinan, bahkan rakyat pun dibiarkan meringis, menangis, dan menjerit lapar.
Karena tidak tahan melihat sesama penonton yang berubah jadi saling ejek, membenci, dan bermusuhan itu, saya ngeloyor menuju pulang.
Di pintu kaca rumah saya jadi kaget melihat wajah sendiri. Di kaca itu ternyata saya melihat monyet!
…
Mas Redjo

