“Semua itu hanyalah titipan.” – WS Rendra
…
| Red-Joss.com | WS Rendra sebelum wafatnya menulis puisi berjudul “Makna Sebuah Titipan.” Kurang lebih puisi itu berkisah, bahwa segala sesuatu yang kita punyai adalah titipan. Rumah, mobil, harta, anak, dan jabatan itu semuanya adalah titipan Tuhan. Tapi kenapa saat titipan itu diambil justru kadang kita merasa berat. Kita sebut itu musibah, petaka, tragedi, dan bencana. Bukankah semua itu hanyalah titipan-Nya…
Semua harta, kekayaan, jabatan, kesehatan, kecantikan, dan ketenaran bisa saja diambil tiba-tiba oleh yang punya. Dulu kaya sekarang habis hartanya. Dulunya cantik jelita, ketika lansia … ya cantiknya lansia. Dulu ganteng, perkasa, bisa kerja tak kenal waktu, sekarang loyo tak berdaya. Bila saatnya tiba semua itu diambil dari kita, seharusnya kita bersyukur. Karena kita boleh menggunakan dan menjaganya, bukan malah menangis dan menderita. Bila saatnya tiba, semuanya itu sirna dari hidup kita. Tapi Tuhan telah menyediakan yang lebih sempurna, dari hidup sementara di dunia ini.
Faktanya kita sering lupa dan ingin jadi penguasa atas yang bukan kita punyai. Kita berjuang dan berusaha menjaga dan mengembangkan semua itu. Kita menggunakannya, menikmatinya, membagikanya, dan memeliharanya.
Memperbaiki diri itu mudah untuk yang mau berusaha dan berjuang. Dari yang susah dan miskin jadi kaya bergelimang harta. Dari yang biasa jadi luar biasa jelas membuat hidup penuh warna. Dari yang bukan apa-apa jadi terkenal mempunyai kuasa, dan hidup bermakna. Tapi sebaliknya bila jatuh. Dari yang semula mewah dan enak jadi susah, miskin dan tidak berpunya. Hidup terasa berat dan penuh derita. Padahal semua itu titipan. Sejatinya, jika si Empunya yang mengambil, hal itu bukan bencana, musibah, tragedi, atau petaka. Seharusnya kita boleh bahagia, karena telah menjaga dan merawat semua titipan-Nya.
Deo gratias.
…
Edo/Rio, Scj

