Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
| Red-Joss.com | Tulisan ini diinspirasi oleh sebuah kisah dari kota Bcharre, Lebanon. Dikisahkan hiduplah seorang pria miskin yang sangat membenci sang Pangeran yang sangat murah hati.
Sang Pangeran pun sudah mengetahui akan kebencian yang membara serta kata-kata hinaan yang ditujukan kepadanya. Tetapi, sang Pangeran berprinsip untuk tidak terpancing atas kebencian itu.
Suatu saat di suatu malam yang dingin, sang Pangeran membuat sebuah kejutan besar dengan mengirimkan tiga buah hadiah kepada si pria pembencinya itu.
Diutusnya seorang kaki tangannya ke rumah si pria itu. Apa yang dibawa sebagai hadiah kejutan itu?
Ketiga macam hadiah itu berupa simbol persembahan Pangeran yang berisi:
(1) Sekantong terigu.
(2) Sekantong sabun.
(3) Sekantong gula.
Betapa terperanjat dan terkejutnya pria pembenci itu atas kedatangan utusan Pangeran.
“Saudara, hadiah ini berupa kenang-kenangan dari Pangeran untuk saudara.”
Setelah kejadian itu, dengan dada membusung, sang pria itu menghadap pada Uskup setempat.
Di sana, dengan angkuhnya diceritakannya, bahwa Pangeran, kini justru ingin bersahabat dengannya.
“Alangkah bijaksananya Pangeran itu, dan alangkah tak tahu malunya kamu, karena ketiga hadiah itu justru bersimbol,” kata Uskup itu kalem.
Terigu itu menyimbolkan, bahwa kamu itu, perutmu selalu lapar.
Sabun itu menyimbolkan, bahwa bokongmu itu selalu kotor karena kamu memang jarang kena air.
Gula itu menyimbolkan upaya untuk memaniskan lidahmu yang selalu kotor lewat kata-kata kotor.
Sejak peristiwa itu, pria itu sangat malu terhadap dirinya sendiri.
Juga ia mulai diam seribu bahasa alias membungkam.
Mari, kita belajar dari peristiwa ini, bahwa tindakan kejahatan tidak selalu harus dibalas dengan kejahatan.
(Ada banyak cara untuk mengajak orang berdamai dengan dirimu!)
…
Kediri, 27 Januari 2024

