“Sukses untuk sendiri itu egois. Jika untuk dibagi-bagikan itu amanah dan anugerah Tuhan.” – Mas Redjo
…
“Dengan bermitra itu kita jadi kuat. Meski keuntungan kecil, tapi pasti. Hubungan memanjang, semoga saja langgeng,” harap Pak HH yang mengawali kisah rahasia suksesnya jadi distriburor kerupuk mentah.
Ide pertama bermitra dengan para produsen kerupuk itu muncul, ketika Pak HH mendengar keluhan mereka untuk sewa truk ekspedisi itu mahal. Karena truk itu pulangnya kosong.
Terbetik ide menyediakan bahan sagu untuk memenuhi kebutuhan para produksen kerupuk mentah itu. Pak HH lalu menanyakan harga modal memperoleh bahan sagu itu agar ia dapat memasok ke mereka. Sehingga truk espedisi itu pulang pergi jadi disewa.
Dengan pinjaman bank, Pak HH mengambil sagu itu langsung dari pabrik untuk didistribusikan ke para produsen kerupuk yang bermitra dengannya sesuai kebutuhan.
Ongkos sewa truk ekspedisi juga jadi murah. Karena untuk pulang pergi. Jika produsen besar, sagu itu langsung dikirim dari pabrik dan pulangnya membawa kerupuk untuk transit di gudang Pak HH. Karena kebetulan pabrik sagunya di Lampung.
“Dengan membangun kemitraan itu kita saling percaya dan jadi kuat untuk menghadapi persaingan dan tantangan global,” tandas Pak HH optimis.
Dari distributor kerupuk mentah itu Pak HH lalu merambah ke usaha ekspedisi. Ia menyediakan armada untuk memenuhi kebutuhan sendiri, dan disewakan. Untuk menyiasati agar armada yang disewakan itu pulangnya tidak kosong, ia menjalin relasi di daerah untuk membawa makanan khas atau barang lainnya untuk dijual kembali.
Ia sangat bersyukur dan beruntung, karena seorang anak dan menantu mempunyai usaha grosir kue kering dan pakaian jadi.
“Bagaimana untuk menghadapi perekonomian yang melambat ini?”
“Saya selalu besyukur, karena biasa hidup prihatin, sehingga tidak jadi kagetan dan gumunan,” tandas Pak HH.
Bersyukur pula, anak Pak HH yang lulusan IT itu piawai dalam ‘digital marketing’ untuk berjualan secara online.
Sejatinya, dengan hidup prihatin itu mengajar kita untuk mengendalikan nafsu lapar mata. Kita membeli barang itu sesuai kebutuhan dan skala prioritas. Tujuannya, agar tidak besar pasak daripada tiang.
Nah!
…
Mas Redjo

