| Red-Joss.com | Berani menentukan sikap itu baik dan hebat. Ketimbang kita memilih sikap abu-abu, tapi sekadar untuk cari selamat atau cari keuntungan pribadi.
Sesungguhnya, berkata jujur dan benar itu tidak dapat diganggu gugat, dan harga mati. Tujuannya agar kita hidup damai, selamat, dan bahagia.
Saya jadi teringat pengalaman seorang sahabat. Karena sikap jujurnya itu ia terpaksa disinggirkan oleh pimpinannya sendiri.
Awalnya, sahabat saya, sebut FM itu menjabat sebagai bendahara di suatu instansi. Karena ia tidak mau diajak kongkalingkong oleh pimpinan, ia terpaksa dimutasi.
Caranya sederhana dan mudah. FM disekolahkan. Usai sekolah, meja kerjanya raib. Dihilangkan. Meski naik jabatan, tapi ia tidak di bagian bendahara lagi.
“Dari awal saya paham, jika orang jujur dimusuhi itu biasa. Bagi saya pribadi, jabatan itu amanah, ketika kita komitmen untuk melaksanakan tugas itu dengan jujur dan bertanggung jawab. Jadi, sekali pun dipindah, saya selalu bersyukur, karena dilindungi Allah. Sehingga saya tidak silau dengan materi,” kata FM sumringah, dan bahagia.
Sesungguhnya saya sendiri juga sering kali diuji akan materi, ketika pembeli kelebihan bayar. Atau supplayer yang salah hitung. Saya membayangkan, mencari uang itu sulit, bagaimana jika uang saya hilang? Makan uang haram itu tidak berkah. Seandainya pelanggan atau pemasok barang menanyakan hal itu…? Malu!
Sesungguhnya jujur itu pilihan, dan anugerah Allah. Dengan berlaku jujur dan benar pada siapa pun, hidup kita berlimpah berkat Allah.
Dengan bersikap jujur dan benar, berarti kita tidak membohongi diri sendiri. Tidak ada hal yang harus ditutupi, ditakuti, atau dicemaskan. Hati ini pun jadi tenang, tentram, dan damai.
Rohani sehat membuat kita bekerja makin semangat. Hidup pun jadi berkat, karena kita dipercaya Allah dan sesama.
Selalu setia berlaku jujur dan benar agar kita hidup damai, selamat, dan bahagia.
…
Mas Redjo
…
Foto ilustrasi: Istimewa

