| Red-Joss.com | Karena biaya kuliah melonjak naik dan mahal, saya memutuskan tidak meneruskan kuliah. Akibatnya, saya dimarai orangtua. Padahal saya ingin wirausaha.
Alasan orangtua, kuliah itu untuk menambah ilmu dan wawasan agar pola pikir saya makin berkembang untuk menghadapi tantangan zaman.
Begitu pula tawaran orangtua agar saya kuliah ke luar negeri, terpaksa saya tolak secara halus. Saya coba memberi pengertian pada mereka, bahwa saya siap mandiri. Kini, yang dibutuhkan adalah skill dan tenaga terampil.
Saya lalu menyebut contoh orang sukses, meski pendidikan mereka tidak tinggi, termasuk famili Ayah yang menemukan formula tambal ban yang cespleng. Kini Oom DM mempunyai beberapa showroom mobil.
“Yang penting itu niat, tekad, dan semangat juang kita, Yah,” sekali lagi saya meyakinkan orangtua.
Beruntung, akhirnya orangtua mau mengerti dan memahami keinginan saya.
Beruntung pula, karena sejak kecil saya getol sekali membaca buku, khususnya buku otomotif. Saya juga betah nongkrong lama di bengkel orangtua teman untuk melihat para mekanik itu mengotak-atik mesin. Saya ingin ‘nyantrik’ dulu untuk menimba ilmu di bengkel sebelum mandiri, membuka bengkel sendiri.
Jujur, saya tidak mau kuliah, karena terinspirasi dan termotivasi buku kisah orang sukses yang saya baca. Apalagi menghadapi tantangan zaman digitalisasi, dan makin berat.
Berteori itu boleh, tapi jauh lebih dahsyat, jika kita mempraktekkan ilmu yang dipelajari itu ke dalam kehidupan nyata.
Sesungguhnya, kita dituntut untuk jadi pribadi yang siap tempur dalam menghadapi segala tantangan dan situasi.
Pejuang sejati itu harus mampu mengatasi tantangan dan merebut peluang usaha untuk meraih sukses.
Jadilah pribadi yang inovatif, kreatif, dan mandiri!
Salam sukses!
…
Mas Redjo

