| Red-Joss.com | Ragu, tidak percaya, dan mustahil! Tidak ada sejarahnya, “orang tidak mencari, tapi memperoleh.” Tapi itu fakta, realistis! Terjadi tidak sekali dua, tapi terus menerus, bahkan sepanjang hidup ini. Apakah kita sungguh pahami anugerah Allah dan menanggapinya?
Anugerah Allah selalu baru setiap hari agar kita pun selalu perbarui diri ini. Berani tinggalkan manusia lama untuk menjadi manusia baru.
Semangat perbarui diri tiada henti adalah makna sesungguhnya dari anugerah Allah yang sentiasa baru setiap harinya.
Cara untuk memperoleh anugerah Allah yang berlimpah itu sederhana, yakni kita berani jauhi, tinggalkan keegoisan sendiri. Orientasi hidup kita tidak ke dalam, tapi tertuju ke luar. Hidup untuk memberikan diri guna menyenangkan hati Allah.
Hal yang tidak mudah, karena ego ini bakal menentang, menghalangi, bahkan sering mengelabui kita agar tidak berbuat baik atau berbagi kasih pada sesama.
Kita tentu pernah merasakan dan mengalami sendiri. Ketika kita ingin mendahulukan kepentingan orang lain, memberi tempat duduk pada lansia, atau mengalah pada orang yang menyerobot antrian kita.
Sabar, tabah, dan ikhlas itu berat. Tapi sifat itulah kekuatan kita untuk mengalahkan keegoisan ini. Hati ini merasa tertekan, sesak, bahkan jadi sakit. Itulah arti pengorbanan sejati untuk mengasihi sesama dengan tulus hati.
Sesungguhnya, ketika kita sungguh ingin menyenangkan hati Allah, kita harus berani meninggalkan rasa kenyamanan itu.
Sesungguhnya, kita sering kali diuji oleh pikiran dan ego sendiri. Ketika pergi ke tempat ibadah, kita melihat kecelakaan di jalan. Kita bersikap cuwek dan tidak peduli, atau kita menolong demi kemanusiaan.
Begitu pula saat hendak makan, kita dimintai uang oleh pengemis yang badannya dipenuhi borok dan bau. Karena mengasihi Allah, kita memberi uang pada pengemis itu dengan ikhlas. Kendatipun kita harus menunda atau batal makan.
Selalu menghadirkan wajah Allah dalam berbuat baik dan kasih pada sesama sebagai ungkapan syukur. Karena tanpa meminta, kita diberi kelimpahan-Nya agar kita murah hati.
“Janda yang miskin itu sungguh mengasihi Allah karena dia memberikan kepada Allah segala yang dimilikinya.” (Mar 12: 41-44)
Semangat memberi itu tidak didasari dari kelebihan, tapi dari kerelaan hati yang mengasihi.
…
Mas Redjo

