“Jangan merasa terbebani, ketika rumah digunakan untuk doa bersama. Tapi bersukacitalah, karena Tuhan melawati dan hadir di rumah kita.” -Mas Redjo
…
“Bersukacita dan berbahagia!” Itu yang harus mendasari pertemuan dan sembayangan di rumah umat Tuhan.
Kikis dan buang jauh perasaan yang terbebani itu. Malu hati, sebab rumah kecil. Repot, sebab kita mesti beberes rumah. Belum lagi, jika kita harus menyediakan konsumsinya.
Stop! Maaf, pikiran seperti itu tidak pantas dilontarkan, apalagi membuat kita menjauh dari Tuhan.
Apakah hati kita tidak merindu untuk berkumpul bersama dengan saudara seiman guna memuji dan memuliakan Tuhan?
Rumah kecil itu tidak masalah, asal tidak pikiran kita yang mengecil dan jiwa ini jadi kerdil.
Kita beberes dan merapikan rumah itu juga bukan beban, melainkan kewajiban. Baik rumah itu hendak digunakan sembayangan atau tidak. Sebagaimana kita menjaga kebersihan hati untuk menghadap kepada-Nya.
Kebersihan dan kerapian rumah itu harus dijaga, tujuannya jelas, supaya sedap dipandang mata dan penghuninya jadi betah serta nyaman di rumah.
Selain itu, rumah dibersihkan dan dirapikan, karena kita hendak memuji dan memuliakan Tuhan. Sebab ada tertulis, “Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Matius 18: 20)
Begitu pula, ketika ada umat yang merasa terbebani, jika menyediakan konsumsi. Pertanyaannya, (maaf) “Kita datang itu untuk sembayang memuliakan Tuhan atau demi makanan?” Padahal, masalah konsumsi itu dapat dikembalikan pada umat, sekiranya berkenan untuk menyumbangnya.
Sejatinya, sembayangan bergilir dari rumah ke rumah umat yang lainnya itu, bukan demi sajian konsumsi. Melainkan, karena hati yang merindu. Kita ingin bertemu, dijamah, dan disembuhkan Tuhan.
Makin sering rumah kita untuk doa dan sembayangan bersama, rumah dan anggota keluarga kita kian berlimpah berkat-Nya.
…
Mas Redjo

