| Red-Joss.com | Berteori itu mudah, tapi susah untuk mewujudkannya. Berdoa itu sulit, apalagi untuk diwujudkan ke dalam tindakan nyata.
Sesungguhnya merasa sulit itu datang dari pikiran, ketika kita berdiam diri dan malas melakukannya.
Sesungguhnya untuk hidup sukses dan bahagia itu sumbernya dari hati yang mengasihi: hati kudus Yesus.
Sesungguhnya untuk mengampuni dan mengasihi sesama itu ibarat mendaki gunung terjal yang berliku dan curam. Jika tidak miliki mental baja dan ekstra hati-hati, kita bakal jatuh terhempas ke dasar jurang!
Kini, hal itu yang tengah saya jalani dan sikapi hati-hati agar saya tidak salah langkah dalam mengambil keputusan yang mencelakakan diri sendiri.
Anak saya, CK tengah bermasalah dan digugat cerai oleh istrinya. CK dituduh selingkuh. Padahal kejadian yang sebenarnya, istri dan mertua CK menggelapkan kepemililan rumah. Tanda tangan CK dipalsukan!
Jujur, ketika CK dilarang menemui kedua anak balitanya di kediaman mertuanya, hati saya sakit. Apalagi lalu surat kepemilikan rumah CK diubah. Harga diri keluarga seperti dinjak, dan itu amat terlukai.
Ketika hak asuh anak dimenangkan istri CK, saya berniat naik banding dan sekaligus meneruskan gugatan tentang pemalsuan kepemilikan rumah. Tapi niat itu dicegah CK.
“Pak, boleh saya bicara…,” kata CK hati-hati.
“Soal apa?” saya menatap CK tak mengerti. Bahkan makin penasaran dengan ketenangan sikap CK itu.
“Saya sudah capai, Pak. Saya tidak mungkin izin dari kantor melulu. Saya percaya gugatan kita tentang kepemilikan rumah bakal menang, tapi untuk apa? Kita memuaskan emosi dan dendam untuk memberi pelajaran pada mereka?”
“Maksudmu?!”
“Pak, bagi saya menang kalah tetap jadi abu, alias sia-sia. Siapa yang akan mengurus anak-anak, jika Ibunya di penjara?”
Saya mencoba mengingatkan dan menolak tegas, tapi CK tersenyum kecut.
“Saya belajar untuk ikhlas, Pak. Anggap saja itu untuk anak-anak. Materi bisa dicari, Pak,” pinta CK sambil merangkul bahu saya. Hati saya yang semula membara langsung mendingin mendengar permohonannya.
Saya menunduk sambil menarik nafas panjang. Ketenangan dan keikhlasan anak menampar nurani saya. Sekaligus membuat saya malu hati.
Anak saya yang dikhianati dan disakiti oleh istri dan mertuanya itu mampu memaafkan, mengampuni, dan mengasihi. Sementara saya?
Saya memejamkan mata. Bayangan Yesus saat di salib itu menggedor hati saya yang terdalam. Yesus mengampuni dan mendoakan musuh-musuhnya.
“Ya, Allah, ampunilah kami orang berdosa…,” desis saya lirih. Lirih sekali.
…
Mas Redjo

