| Red-Joss.com | Sejak kecil saya dilatih untuk menjadi pribadi yang mandiri.
Sejak masih kanak-kanak saya diberi tahu, apa tugas dan apa yang harus saya lakukan.
Sejak muda, Bapak dan Mamak menuntunku menjadi pribadi yang berserah diri kepada Tuhan.
Doa Rosario dan membaca Kitab Suci tidak boleh ditinggalkan.
Itulah sebabnya, saya tahu apa yang saya butuhkan dan saya menjadi tahu apa yang harus saya lakukan dari hari ke hari.
Itulah sebabnya, saya tidak mau merepotkan orang lain, sejauh saya bisa dan mampu mengerjakannya. Jika saya tidak tahu, saya akan berusaha dulu. Jika memang saya tidak tahu, maka saya akan bertanya kepada orang yang kuanggap bisa membantuku.
Ada pengalaman yang tidak enak: Kadang minta bantuan orang lain, ceritanya bisa berubah. Bagus, jika yang baik tetap baik. Lha, jika yang terjadi sebaliknya, yang seharusnya tetap baik menjadi berubah tidak baik. Ini terjadi, karena setiap pribadi membutuhkan pengakuan. Repotnya, apa saja digunakan untuk menguatkan pencitraan dirinya. Ini jadi tidak benar. Hal itu yang membuatku sedikit ragu, ketika saya harus meminta bantuan. Yang kulakukan cukup teliti untuk bisa memilah-milah dan memilih.
Saya mau berdiri menjadi pribadi yang bebas, yang tidak terikat ini dan itu. Saya mau menjalani persahabatan dan persaudaraan tanpa membeda-bedakan. Saya mau melihat kehidupan ini dengan menempatkan nilai kemanusiaan tepat pada posisi yang paling atas.
Iman yang kupercayai sebagai api kasih yang menerangi gerak kehidupan itu sendiri.
Saat kita mempunyai api kasih yang membakar diri ini, maka kita tidak pernah merepotkan orang lain, yang terjadi sebaliknya, mau memudahkan hidup orang lain.
Mau menggembirakan orang lain.
Mau membuat hidup orang lain menjadi damai dan bahagia.
Jika para sahabat berjuang untuk menjadi pribadi seperti itu, apalagi saya.
Ada yang tahu dan tidak tahu tentang saya ini.
Ada yang sudah mengenal dan belum mengenal tentang saya.
Ada yang sudah berjumpa dan sama sekali belum pernah berjumpa. Kulakukan saja untuk semua, bahwa saya hadir untuk bersahabat dan bersaudara bagi semuanya.
Saya tidak mau merepotkan diri dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak penting.
Saya mau menikmati hidup, seperti yang dinikmati oleh yang lain, yaitu pengalaman saling mengasihi, bukan saling curiga dan membenci.
Saya tahu, para sahabat telah menjadi sahabat peziarahanku selama ini.
Jangan segan-segan menegurku, jika saya membuat repot dan direpotkan oleh tingkah-lakuku.
Kadang saya yang maunya berbuat baik dan menyebut diri sebagai orang yang baik, tanpa disadari, bertingkah yang sebaliknya, yaitu jadi orang yang tidak baik dan menyebalkan.
Itu bisa saja terjadi, sebab kulitku masih kulit manusia. Tubuh dan jiwaku tetap tubuh dan jiwa seorang manusia. Jauh dari sempurna.
Dari semua pengalaman yang terlewati itu, sebenarnya refleksi di atas terinspirasi dari pengalaman Ibuku sendiri yang tidak pernah mau merepotkan anak-anaknya.
Memang! Aku telah belajar banyak dari Ibu yang tanggal 24 Desember 2023 lalu merayakan ulang tahun Ke-75. Tetap sehat ya, Mamak. Berkat dan doaku untuk Mamak. Doakan aku juga. Dalam doa Mamak, namaku selalu engkau sebut.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

