“Melihat dengan mata itu realita. Tapi melihat dengan hati itu hikmat dan anugerah-Nya.” -Mas Redjo
Karena Setan itu tidak mampu bersikap rendah hati, maka senjata itu yang harus kita gunakan untuk mengalahkannya.
Berpikir jernih dengan hati yang bening itu yang saya lakukan agar tidak salah langkah, sehingga permalukan diri sendiri. Tapi dengan refleksi diri agar yang saya pikirkan, ucapkan, dan perilaku saya seia sekata. Bersikap jujur dan benar pada diri sendiri.
Sejatinya untuk mengalahkan Setan itu tidak sulit dan rumit. Caranya adalah lewat jalan kesederhanaan dan bersikap rendah hati. Karena Setan tidak mampu melakukan hal itu.
Jalan kesederhanaan itu mengajar saya untuk tidak tergiur memburu ekspektasi, menonjolkan ego, dan demi materi. Tapi mengajak saya mudah bersyukur untuk memaknai hidup. Bahwa nafas hidup dan kesehatan ini anugerah Tuhan yang luar biasa.
Jalan kerendahan hati itu mendidik saya agar tidak sombong dan merasa super dibandingkan dengan orang lain. Tapi mengajar saya untuk memahami, bahwa hidup ini anugerah Tuhan. Di atas langit masih ada langit agar kita rendah hati.
Sejatinya, apa pun yang dipikir, diucapkan, dan perilaku kita itu disinkronkan agar seia-sekata untuk melayani dan kemuliaan Tuhan.
Dengan memprioritas kehendak Tuhan, karena devosi kita tidak untuk dunia dan kenikmatannya. Tapi untuk Tuhan.
Ketika devosi hidup ini untuk dunia, kita selalu merasa kurang dan tidak ada puasnya. Akibatnya, hidup ini serasa kosong, hambar, dan membosankan!
Berbeda, jika devosi hidup ini untuk Tuhan. Orientasi kita tidak untuk diri sendiri, tapi terarah dan fokus untuk melayani dan mengabdi pada-Nya.
Hidup sebagai ungkapan pujian dan syukur bagi kemulian Tuhan. Hidup berlimpah sukacita dan bahagia.
Mas Redjo

