“Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri” (Yoh 12: 6a).
Injil menampilkan sosok Yudas Iskariot dengan sikap munafiknya. Ia mengkritik tindakan Maria, saudara Lazarus, yang meminyaki kaki Yesus dengan minyak narwastu yang sangat mahal. Akan tetapi, Yesus mengetahui isi hati Yudas dan menyadari, bahwa kritik itu lahir dari keserakahan, bukan kepedulian.
Tanpa kita sadari, terkadang kita pun bersikap seperti Yudas Iskariot. Kita mengajarkan hal-hal yang baik kepada sesama, tapi kita sendiri tidak melakukannya. Kita mungkin melakukan berbagai perbuatan baik, namun dengan motivasi yang tidak murni. Atau kita terlalu sibuk mengkritik kelemahan sesama, tapi lupa melihat kelemahan diri sendiri. Allah mengetahui isi hati kita. Ia mengetahui setiap motivasi dari perbuatan yang kita lakukan.
Di awal Pekan Suci ini, marilah kita memeriksa kedalaman hati kita. Apakah kita sudah sungguh jujur di hadapan Tuhan? Atau justru kita masih sering bersikap munafik seperti Yudas Iskariot?
Marilah kita datang dengan kejujuran di hadapan Tuhan, mengakui segala kelemahan dan dosa kita, serta berusaha untuk memperbaiki diri agar jadi makin indah di hadapan-Nya.
Sr. M. Innocentia dari Salib, P. Karm
Senin, 30 Maret 2026
Yes 42: 1-7 Mzm 27: 1-3.13-14 Yoh 12: 1-11
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com

