Aku kagum dan takjub dengan cara Tuhan Yesus memilih murid. Hal ini sangat berbeda dengan cara si Jahat yang senang mengambil dan menghancurkan yang indah. Sedang Tuhan Yesus mengambil yang hancur dan membuatnya jadi indah.
Banyak orang melihat Lewi, si pemungut bea cukai ini dengan citra buruk. Hidupnya tidak bersih, kotor, dan dicap sebagai orang berdosa. Itulah cara manusia mengadili sesamanya. Kalau sudah tidak suka, bencinya luar biasa. Sehingga terjadi yang namanya pembunuhan karakter.
Berbeda dengan cara Tuhan Yesus. Pada diri Lewi yang sudah dicap sebagai orang berdosa itu, Tuhan Yesus melihat mutiara yang indah memancar dari hatinya. Mutiara itu adalah sosok pribadi yang lalu dipilih jadi murid, Rasul, dan setelah itu jadi pewarta. Sebuah lompatan yang tidak bisa dibayangkan oleh orang-orang yang telah membunuh karakternya.
Orang-orang biasanya hanya mengandalkan mulutnya untuk menghakimi. Tapi Tuhan Yesus memiliki ketajaman mata sebelum mengundang Lewi, bahkan Dia duduk makan bersama Lewi dan teman-temannya. Tidak ada kata-kata penghakiman dari Tuhan Yesus, tapi undangan yang indah, yaitu “Mari, ikutlah Aku.”
Karena itu jaga mulut ini agar tidak berkata buruk dan menghancurkan hidup orang lain. Jangan asal menilai dan menghakimi. Tapi belajarlah dari Tuhan Yesus yang menuntun pribadi terpuruk itu agar mampu bangkit, dan hidup baru, seperti Matius.
Santo Matius, doakanlah kami! Amin.
Rm. Petrus Santoso

