Tiap orang ingin mempunyai mahkota, sesuatu yang bermakna dalam kehidupannya. Yang sering dilupakan, dan juga dihindari, bahwa setiap mahkota ada salibnya. ‘No crown without cross’. Oleh karena itu, tidak sedikit yang jadi bukan dirinya, setelah mahkota itu dicapai. Ada yang hilang, yakni bahagia sejati.
Selasa pagi, dua jam 08.00 – 10.00 saya mendengarkan pengalaman kawan aktivis Sanberna yang aktif kembali.
“Kuberikan waktu dan tenaga untuk Gereja, tapi tetap saja ada yang menilaiku ambisius.”
“No crown without cross,” jawabku pendek. Itulah paradoks dalam pengabdian.
A mistake that makes you humble is better than an achievement that makes you arrogant.
Selalu butuh bantuan untuk memurnikan mahkota itu.
Salam sehat.
…
Jlitheng

