“Kasih itu tidak pernah terlambat datang, karena Allah adalah kasih, dan kita amat dikasihi-Nya.” -Mas Redjo
Orang yang menutup diri dari pergaulan itu adalah mereka yang menutup pintu kasih Allah. Mereka itu wajib dikasihi. Bukan untuk dijauhi, melainkan didekati dan dipeluk dengan kasih. Mereka adalah domba yang hilang itu untuk dibawa kembali kepada-Nya (Mat 18: 12-14).
Rasa sedih miris itu menyesak di dada saya melihat keluarga yang ‘kesripahan’, karena ditinggal berpulang oleh seorang anggota keluarga itu minim tetangga yang datang melayat ke ‘rumah duka’.
Bagaimana, jika hal itu terjadi pada keluarga saya?
Saya menekur ditikam pisau ‘miris’ itu bertubi-tubi, dan menimbulkan luka menganga dalam penyesalan. Saya teringat nasihat Ayah, “Le, keluargamu yang terdekat itu adalah tetangga kiri-kananmu agar kau pandai membawa diri. Mereka itu lebih cepat datang menolong, bukan keluargamu yang jauh di desa.”
Kini, saya melihat kenyataan itu. Tapi tidak seharusnya orang yang sedang berduka itu tak dipedulikan, ‘dicuwekin’, apalagi ditinggalkan. Sehingga, tanpa disadari, sejatinya kita sendiri yang kehilangan empati dan kepedulian itu. Mungkin saja, tetangga yang memboikot tidak datang itu bermaksud memberi pelajaran, membalas perlakuannya yang kurang baik itu agar mawas diri. Tapi hal itu tidak tepat sasaran, bahkan keliru.
Orang yang berperilaku kurang baik atau bersalah itu tidak seharusnya dihukum, diadili, dan ditinggalkan di saat kedukaan seperti itu. Dengan datang untuk ikut berempati dan peduli itu menunjukkan, bahwa kita berjiwa besar, semoga dia segera sadar diri, untuk mengambil hikmah dan memperbaiki sikapnya untuk sesrawungan secara benar.
Saya sadar sesadarnya, bahwa hakikat ‘sesrawungan’ yang dimaksud Ayah adalah agar dalam pergaulan itu saya tidak merasa ‘lebih’ dibandingkan dengan yang lain. Karena berkuasa, berpangkat, atau kaya raya. Tapi untuk jadi pribadi yang berjiwa besar, rendah hati, dan bijaksana.
Sejatinya, apa pun peristiwa yang terjadi di dunia ini, baik suka duka dan pahit manis dalam hidup ini untuk menjukkan kemurahan hati Allah. Ia senantiasa menyertai kita, hingga akhir zaman.
Hidup ikhlas itu hikmat Allah!
Mas Redjo

