“Dalam setiap kesedihan, Tuhan mendekat, mengungkapkan belas kasihan, dan membentuk iman.”
Di saat kami tenggelam dalam dukacita, Allah mendekat. Saat kata-kata tidak lagi mampu terucap, Engkau tetap berbicara lembut, sabar, dan penuh kuasa.
Hari ini kami melihat Yesus datang ke rumah yang sedang berduka. Marta menyambut-Nya bukan dengan kepahitan, melainkan dengan kejujuran yang rapuh: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini…” Namun di balik luka itu, tumbuh benih kepercayaan: “Tapi sekarang pun aku tahu…”
Tuhan, ajar kami untuk berdoa seperti Marta, jujur dan nyata, tapi tetap berpijak dalam iman.
Tuhan Yesus mengungkapkan sebuah kebenaran yang terlalu agung untuk dipahami sepenuhnya: “Akulah kebangkitan dan hidup.” Betapa dahsyat janji ini! Betapa indah harapannya! Namun begitu sulit dipercaya saat kami dikelilingi oleh dukacita, kekecewaan, atau keheningan. Tolong kami agar dapat berkata melalui hidup kami: Ya, Tuhan, aku percaya, meskipun kami belum mengerti ‘mengapa’ dan ‘bagaimana’.
Begitu pula saat Allah berbicara kepada Musa, muka dengan muka, seperti seorang sahabat berbicara dengan sahabatnya. Betapa mengagumkan! Namun Allah tetap menyelubungi diri-Nya dengan awan dan misteri. Musa memohon agar Allah tetap menyertai umat-Nya, bukan karena mereka layak, justru karena mereka rapuh. Allah lewat di depannya, menyatakan nama-Nya: “Tuhan, Allah yang penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia.”
Terima kasih, Bapa, karena Engkau tidak pernah menyerah atas kami. Saat kami pantas dijauhkan, Engkau justru mendekat. Saat kami jatuh, Engkau siap mengampuni. Setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Mu atas orang-orang yang takut akan Engkau.
Hari ini kami mohon:
- Biarlah rumah kami jadi seperti kemah pertemuan, tempat Engkau berbicara dan kami mendengarkan.
- Biarlah hati kami seperti hati Marta, siap bangkit dalam iman di tengah gelapnya harapan.
- Biarlah rahmat-Mu membentuk, menyembuhkan, dan memperbarui kami.
Juga saat kami tergoda berpikir, bahwa Engkau datang terlambat, ingatkan kami: bahwa waktu-Mu bukanlah penundaan, melainkan persiapan menuju kemuliaan yang lebih besar.
Kami percaya, Tuhan. Teguhkan iman kami untuk taat dan setia pada-Mu
Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

