| Red-Joss.com | Pengkhianatan dan penyangkalan selalu berakhir dengan cerita yang menyedihkan, kalau tidak mau dibilang menyakitkan.
Jujur! Kita semua pernah mengalami yang namanya pengkhianatan dan penyangkalan itu dalam bentuk yang berbeda-beda. Saat itu kita menjadi terluka.
Tidak terbayangkan, jika yang mengkhianati dan menyangkal itu orang yang amat kita kasihi, sehingga kita berteriak sekuatnya, lari sekencangnya, atau kita mengumpat ke seluruh penjuru mata angin. Kita merasakan ketegangan tubuh, jiwa, dan roh. Kita pun semakin terluka.
Apakah kita akan membiarkan pengkhianatan dan penyangkalan itu membunuh kita? Jika tidak, apa yang harus kita lakukan?
“Hidup selalu dalam kejujuran dan kebenaran!”
Ini langkah yang diambil oleh Tuhan Yesus. Kata-kata kebenaran-Nya memang menyangkitkan, khususnya untuk Yudas Iskariot yang berkhianat, dan Petrus yang menyangkal-Nya. Kata-kata kebenaran Yesus telah mencambuk hati mereka.
Jadi, tertangkap pesannya kan? Di tengah-tengah pengkhianatan dan penyangkalan itu, apa yang mesti kita buat? Kita tetap berdiri dengan kata-kata kebenaran. Karena kebenaran itu mencambuk mereka yang suka berkhianat dan melakukan penyangkalan.
Setuju? Atau punya jawaban lain? Silahkan dibagikan saat kita mengalami pengkhianatan dan penyangkalan. Sejauh mana kita mengolahnya selama ini? Saatnya kita berkisah sekaligus belajar menyembuhkan luka-luka itu, supaya kita tidak menjadi “peratap-peratap suci” karena pernah dikhianati dan disangkal.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

