Red-Joss.com | Hari ini kubagikan rasa duka yang tidak pernah hilang sejak kukenal lagu: “Duh Sri Yesus, Sang Panebus kakisas lan sangsoroโฆ”
Penggalan kidung Jumat Agung yang dengan penuh rasa melukiskan derita Yesus, ketika menuntaskan panggilan Bapa-Nya.
Kidung ini jadi jejak penuntun bagi keluargaku menjalani panggilan gereja di bumi ini.
Kidung “Duh Sri Yesus, Sang Panebus kakisas lan sangsoro” jadi penuntun dan penyegar iman, bahwa Yesus sudah demikian besar berkorban untuk kami, maka sudah selayaknya kami tidak hitung-hitungan dalam urusan pantang dan puasa ini. Sebab yang kami lakukan hanya pengorbanan sangat kecil, jika dibandingkan dengan pengorbanan Yesus . Namun melalui pengorbanan kecil ini, kami ingat pengorbanan Yesus, yang membawa kami kepada keselamatan kekal; dengan melewati jejak-jejak iman kami di bumi ini.
Seperti denyut jantung yang terus berdetak menjaga kehidupan ini, dibantu dengan kidung: “Duh Sri Yesusโฆ,” kami ingin melewati pantang dan puasa menjernihkan pikiran, hati, dan budi kami agar memperkuat denyut kasih kami bagi sesama:
(1). Mind which never minds.
Tidak khawatirkan hal-hal yang tidak penting. Kami mohon rahmat ketekunan untuk menjalaninya.
(2). Heart which never hurts.
Menjaga hati agar kata atau perbuatan kami tidak melukai orang lain dan tak akan terluka, karena keberuntungan tidak banyak berpihak.
(3). Brain which never drains.
Tidak jenuh berpikir untuk mencarikan jalan ke luar bagi kebekuan asa orang lain, secara ekonomi, sosial, mental atau spiritual.
(4). Touch which never pains.
Seperti Yesus, kata dan tindakan-Nya selalu menyembuhkan dan tidak melukai. Yesus rela dilukai demi kesembuhan banyak orang termasuk kami.
(5). Relation which never ends.
Menjadi pribadi seperti Yesus, setia-kawan, berkerabat sampai akhir, menjauhkan diri dari watak โmbasan mukti banjur laliโ.
Selamat menjalani retret agung dengan hati yang teduh.
…
Jlitheng

