| Red-Joss.com | Tadi pagi, seperti pagi-pagi sebelumnya, sejenak kami berhenti di pinggir jalan, sebelum istri masuk kantornya, dibilangan Puri Indah. Puri yang tidak lagi indah seperti dulu.
Tiba-tiba kami sadar, tidak ada lagi burung-burung yang menghiasi tempat itu dengan keceriaan mereka. Tak ada lagi “urr ketekuk” burung perkutut; lenyap sudah “jekutruuuu” burung deruk, pergi entah ke mana indahnya bunyi “pitu wolu” burung podang. Prenjak, emprit, kutilang… dengan keceriaan mereka, entahlah … Mereka pergi, mencari habitat baru dengan munculnya gedung-gedung megah, kaku, dan kering.
Ketika lingkungan terobsesi kemegahan dan kehebatan, yang kaku dan kering, pada saat itu berawallah perginya suara-suara keheningan yang mencari habitat baru nan teduh dan luruh.
Manusia terlahir dalam keadaan lunak dan lentur; ketika mati, mereka keras dan kaku.
Tumbuhan mudanya lembut dan luwes; ketika mati mereka rapuh dan kering.
Jadi, siapa pun yang kaku dan tidak luwes, adalah pengikut kematian. Siapa pun yang lembut dan lentur, pengikut kehidupan. Yang keras dan kaku pasti patah. Yang lembut dan lentur pasti menang.
Salam sehat berlimpah berkat.
…
Jlitheng

