Kita mudah sekali bercerita tentang kesuksesan. Tapi bercerita tentang kegagalan? Tunggu dulu! Padahal hidup yang dilewati ini pernah sukses dan pernah juga gagal.
“Tuhan, bahkan Setan pun tunduk kepada kami, karena nama-Mu” (Luk 10: 17).
Kesuksesan yang dialami itu mudah sekali diceritakan. Tanpa diminta, kita bercerita tentang kesuksesan itu. Kita ingin didengarkan oleh siapa saja. Bahkan, juga ada yang sudah jadi seorang motivator. Dia bercerita, tidak hanya tentang kesuksesannya, tapi juga membagikan strategi dan kunci dari kesuksesan itu. Bagaimana tentang cerita kegagalan?
Tunggu dulu! Hati-hati berceritanya. Dilihat dan dipilih dulu kepada siapa hendak bercerita. Tidak bisa spontan. Berceritanya tahap demi tahap disesuaikan dengan kondisinya. Kadang-kadang, kita tidak ingin bercerita secara detail. Mengapa? Karena terlalu menyakitkan. Begitukah? Iya.
Bagaimana kita harus menerima keduanya: kegagalan dan kesuksesan. Pertanyaannya, apakah kita hanya bercerita tentang kesuksesan itu? Jika terlalu sering, kita jadi sombong. Sebaliknya, jika bercerita tentang kegagalan kita? Bahaya juga, sebab jika kita tidak cepat sembuh dan menyalahkan diri sendiri, padahal kegagalan itu sudah berlalu.
Langkah kita adalah seperti yang diungkapkan oleh Yesus, “… jangan bersukacita, karena roh-roh itu takluk kepadamu, tapi bersukacitalah, karena namamu ada terdaftar di Surga” (Luk 10: 20). Hebat! Ya, sejarah kita ditulis semuanya, sebagai orang yang pernah sukses dan gagal. Kegagalan dan kesuksesan itu pernah kita alami. Yang menarik, kita tetap manpu bertahan hingga hari ini.
Sebagai sahabat, tentunya kita ikut bergembira boleh mendengarkan kisah-kisah kesuksesan itu. Kita juga siap menemani, jika diminta untuk sejenak mendengarkan kisah kegagalan itu.
Jangan berkecil hati dan menyerah! Sejatinya kita semua juga pernah gagal. Bahkan hingga kini, ada di antara kita yang masih merasakan sakitnya. Kita harus bangkit dan berjuang pantang menyerah untuk jadi pemenang kehidupan.
Sejatinya sejarah hidup kita semua senantiasa ditulis di dalam buku kehidupan milik Sang Pencipta. Hidup kita harus berguna dan bermakna!
Rm. Petrus Santoso SCJ

