Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Apa pun yang akan terjadi, saya akan tetap berdiri mematung di sini”
(Amanat Kesetiaan Hidup)
…
| Red-Joss.com | “Tetaplah berdiri di sini, dan janganlah sekali-kali engkau mau beranjak!”
Itulah sebuah seruan, bahkan pekikan tekad tulus yang mengalir dari kedalaman hati si pemberani sejati.
Dunia dan isinya, juga kita semua tentu sangat membutuhkan kehadiran sesosok figur dari sang pemberani sejati itu.
Siapakah sejatinya sang pemberani agung itu? Dialah pribadi yang sungguh berani untuk ‘meneguk segelas anggur pahit kesejatian’. Dia yang sungguh berani, lewat kata dan tindakannya untuk mewartakan prinsip-prinsip sebuah kebenaran sejati.
Dia telah bersumpah untuk dengan gagah, tetap mau mematung di sini, di tempat ini, dan di atas titik pusat kebenaran ini.
Sosok sang pribadi berintegritas ini, biasanya bukanlah pribadi selevel kaleng-kaleng atau pribadi bunglon yang latah dan plin-plan.
Dia hanya memiliki sebuah tekad tulus, ialah “berani mempertahankan sebuah kebenaran sejati.”
Dia dengan lantang bersumpah, “Ucapan dan tindakanku ini, bukan atas nama sebuah arus besar, bukan pula atas nama segepok uang darah, dan juga, bukan atas nama sang penguasa latah.”
Tetapi ucapan keberanianku ini, hanya diserukan lantang, demi dan atas nama sebuah kebaikan serta kebenaran kekal (bonum commune)!
Hari ini dan di tempat ini, saya, sekali lagi bersaksi, bahwa sang pecundang yang kepanasan itu tidak akan pernah menang melawan sang kebenaran sejati!”
Maka, saya rela dan berani untuk tetap setia berdiri di tempat ini!
Inilah sebentuk cara, bagaimana saya menyodorkan kebenaran sejati.
Keberanian sejati mengalir dari ketulusan dan kejujuran sejati!
…
Kediri, 9 April 2024

