Fr. M. Christoforus, BHK
| Red-Joss.com | Tidak dapat dipungkiri, manusia adalah mahluk sosial. Kehidupan manusia sungguh tidak dapat hidup normal dan wajar tanpa kehadiran sesamanya.
Kehidupan manusia itu dapat digambarkan seperti sebuah kebun binatang, tempat aneka hewan hidup bersama dan berdampingan.
Aristoteles, sang filsuf itu menjuluki manusia sebagai, โzoon politiconโ, hewan yang selalu berkumpul dan menggerombol. Secara harfiah, bermakna, hewan yang bermasyarakat.
Sesungguhnya โTetangga Sebelahโ adalah tetangga di sekitar kita. Lewat konteks ini, kita membuktikan, bahwa sungguh, manusia sebagai makhluk sosial itu membentuk sebuah komunitas, desa, kota, negara, pun bangsa.
Kita bersama diajak mencermati, merenungkan, dan bahkan mengkritisi kualitas kedewasaan rohani psikologis dari keluarga kita.
Tidak jarang, terjadi juga perang dingin antara suami dan istri akibat mata serta telinga sang istri, yang selalu memelototi keberadaan tetangga sebelah.
Di saat suami pulang kerja, istri mengeluh, bahwa keluarga kita sudah dipermalukan oleh tetangga sebelah, karena mereka membeli mobil baru, atau TV paling canggih. Sedangkan kita, mempunyai TV kuno dan sebuah sedan tua yang sering merongrong.
Tidak urung, suasana dan keadaan itu, membuat sang hati sang suami menjadi panas dan berpikir keras, bagaimana caranya memuaskan memuaskan obsesi liar istri. Inilah dampak negatif perilaku istri yang suka membanding-banding dengan harta tetangga sebelah.
Sejatinya, kondisi ini mau menggambarkan, risiko dari hidup yang dilandasi keinginan mata dan pemuasan dahaga liar batin sang istri; dan bukan atas dasar kebutuhan riil serta kemampuan daya beli keluarga.
Inilah bukti konkret, bahwa kualitas kedewasaan hidup berkeluarga dan bertetangga kita berada di bawah level standar. Sungguh riskan, jika kondisi sebuah keluarga yang hanya berorientasi pada prinsip banding-membanding.
Semoga keluarga kita terhindar dari prinsip hidup serupa ini. Karena dari titik lemah ini, akan memunculkan aneka problem. Bahkan, dapat terjadi keretakan hidup berumah tangga.
Berbahagialah mata dan telinga yang senantiasa memandang tetesan butir air mata, serta mendengar rintihan pedih tetangga yang berperut lapar.
“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena mereka yang empunya Kerajaan Surga. (Matius 5: 3)
…
Kediri, 20 Agustus 2023
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

