| Red-Joss.com | ‘Anyep’ dari bahasa Jawa, artinya hambar atau tawar. Biasanya dipakai untuk mengungkapkan rasa suatu makanan. Tapi dalam pemakaiannya maknanya bisa meluas jadi ungkapan suasana di suatu tempat, atau perasaan suatu hal.
Hidup ini bisa anyeb atau tawar, jika tidak memberi rasa pada sekitarnya. Bahasa yang lebih rohani adalah jadi pelita. Dalam kepemimpinan bisa dimaknai sebagai inspirasi.
Jika pelita tidak memberi terang, untuk apa ada? Kalau hidup atau ‘power’ tidak memberi inspirasi, untuk apa hidup dan ‘power’ itu?
Berprestasi (sukses) itu tidak selalu menginspirasi.
Orang yang inspiratif itu tidak hanya berbicara tentang apa yang penting bagi mereka; mereka bertindak berdasarkan hal itu. Mereka menemukan cara mengatasi tiap rintangan. Orang-orang ini inovatif dan berpikiran maju. Mereka mendedikasikan hidup sesuai tujuannya, demi kebaikan semua orang, bukan hanya diri mereka sendiri.
Bahasa gaulnya, orang yang inspiratif itu bukan ‘mediocre’, sebatas tugas. Orang yang inspiratif itu tidak berlindung pada ‘kedudukan’, sebaliknya ‘down to earth’ untuk melihat kebutuhan rakyat. Orang inspiratif itu berangkat dari hati, bukan kursi.
Apakah itu ya … yang mendasari Mgr Paskalis tidak menerima tawaran sebagai Kardinal? Ah, … berandai-andai!
Salam sehat.
…
Jlitheng

