| Red-Joss.com | “Hidup itu seperti uap, yang sebentar saja kelihatan, lalu lenyap.” Tulisan terakhir karibku lewat WA, sepekan sebelum dia tiada.
Tiga pekan yang lalu sahabat karibku itu meninggal. Tetap saja, walau sahabat itu sudah tua, ada saja yang menghentak: “Satu demi satu akhirnya pergi juga.”
Dengan cara yang tak biasa saya berkarib dengan dua teman di awal kuliah dulu, di Jogya. Karib pertama sudah 2 tahun mendahului, disusul karibku yang kedua, pulang pada yang Empunya hidup.
Sebagai karib, saya kenal kelebihan dan juga kekurangannya sebagai manusia. Betapa pun, kabar kematiannya itu ibarat panas api yang menyengat: “Hidup ini pendek dan semua telah pergi.” Maka saya akan terus ‘menulis’ mengikuti ajakan karibku itu: “Mas, nulisnya jangan berhenti ya, kalau bisa dibukukan.”
Nulisnya terus, tapi untuk membukukan itu tidak pernah ada niat. Tapi niatku memang tetap menulis sampai tiba waktuku.
Kematian itu pasti dan menjemput kita pada saatnya. Bila ajal itu tiba, malaikat Tuhan akan menjemput, tidak peduli siapa, berapa usia, kapan, dan di mana.
Setiap kali mendengar kabar kematian, tergetar hati ini menyadari kalimat puisi WS. Rendra — yang konon disitir dari Kitsb Suci. “Hidup itu seperti uap, yang sebentar saja kelihatan, lalu lenyap” (Yakobus 4: 14).
Hidup ini memang indah, tapi begitu singkat. Bagaikan bunga yang tersenyum wangi di hari ini segera layu dalam hitungan hari.
Hidup ini memang nikmat, tapi bagaikan kilat yang menjilat gelapnya malam, cahayanya berpendar sekelebat lantas lenyap.
Hidup ini sungguh pendek. Maka, tidak sepatutnya kita korbankan kehidupan ini dengan hal-hal yang mencederai hidup itu sendiri.
Orang boleh ternama, kaya, dan digdaya. Namun, jika kelimpahan nama, harta dan kuasa itu tidak berimbas pada sentosanya sesama, maka ia akan mengapung sebentar laksana buih, lantas lenyap disapu gelombang.
A. Carnegie, miliuner AS sang pelopor standar keluhuran orang kaya dengan ukuran kedermawanan, mengatakan, “Orang yang mati dengan meninggalkan kekayaan berlimpah, tanpa memberi manfaat bagi sesama, ia mati dalam kehinaan.”
Ada ragam cara, hidup pendek itu bisa terpatri abadi dalam kehidupan. Pelayanan, derma saleh, ilmu yang berguna, dan menyiapkan generasi yang berpekerti luhur adalah karya keabadian.
Hidup ini memang pendek, tapi tetaplah menulis sebuah kisah yang di dalam kisah pendek itu, ada jejak abadi yang ditinggalkan. Ibarat bunga boleh cepat layu, tapi wanginya tetap harum lestari. Selamanya teman teman mengingat dan menyebut: Adikku, Kakakku, karibku, Mas, Opi, dan sebutan lain yang terpatri dalam ingatan kehidupan bersama.
Menulislah saat hidup atau dituliskan orang saat mati. Hidup baik memberi arti. Dalam mati kita abadi.
Salam sehat.
…
Jlitheng

