“Ojo kagetan, ojo gumunan, lan ojo getunan. Karena kesejatian diri ini teruji sampai mati.” -Mas Redjo
Sesungguhnya petatah petitih itu mengajar kita untuk bersikap teguh hati dan tenang dalam menyikapi dinamika kehidupan ini. Untuk tidak mudah kaget, heran, dan mudah kecewa. Karena banyak orang yang piawai berkamuflase dengan seribu wajah pencitraan.
Resepnya adalah kita tidak boleh terseret, hanyut ke dalam pusaran euforia yang pro dan kontra, bahkan menyesatkan itu. Kita dicekoki dan didoktrin untuk membeli kucing dalam karung serta berujung pada penyesalan.
Saya memilih untuk bersikap netral senetralnya. Tanpa harus komentar, mengumpat, iri, dan apalagi untuk memuji. Karena bagi saya, semua itu tidak ada untungnya. Bersikap diam itu adalah pilihan terbaik.
Saya juga tidak harus meracuni diri atau menyebar racun itu lewat sosmed, karena ketidaksukaan atau iri hati, misalnya. Jikapun harus mengkritisi suatu hal, saya harus menyajikan secara berimbang dan tanpa harus menjelekkan atau membuka aib orang lain.
“Jika ingin menguji ketulusan hati seseorang itu berilah kekuasaan atau jabatan untuk melihat keaslian jatidirinya,” kata orang bijak.
Faktanya, banyak pemimpin yang terperangkap dan bertekuk lutut, ketika disodori kenikmatan dunia. Ternyata, mereka berkamuflase itu untuk mengumpulkan pundi-pundi emas guna dibagikan ke kroninya. Untuk melanggengkan kekuasaan, dan sekaligus mewariskan gunung emas hingga ke tiga belas turunan.
Sadar diri, karena tidak mempunyai kemampuan atau kekuatan untuk merubah orang lain, lebih bijak saya yang berubah sendiri. Tidak untuk membenci dan memusuhi, tapi mengasihi dan doa ikhas untuknya. Karena hanya Tuhan yang mampu mengubah hatinya.
Orang yang beriman dan melayani dengan hati itu konsisten antara kata dan tindakan. Tidak untuk digembar-gemborkan, tapi semua itu dilakukan dalam senyap dan tanpa pamrih.
Sejatinya, ketulusan hati seseorang itu teruji sampai dibawa mati!
Mas Redjo

