| Red-Joss.com | Apa pun alasannya, umumnya orang yang berbeban berat itu tersandera oleh pikirannya sendiri.
Tidak harus berontak, apalagi untuk menolak. Lebih bijak, jika berefleksi diri. Ada apa di balik peristiwa pahit ini?
Saya belajar memahami rencana dan kehendak Allah untuk mudah mensyukuri hidup yang singkat ini. Karena di setiap peristiwa itu ada hikmahnya agar iman kita makin dewasa, dan bijaksana.
Dulu, ketika Ayah berubah sikap atau berdiam diri, perasaan saya jadi tidak karuan, gelisah, takut, dan hati ini tersiksa. Berarti ada hal yang tidak berkenan di hati Ayah, atau bisa jadi saya berbuat salah.
Biasanya kami, saya dan kakak lalu mendekat dan bertanya pada Ibu. Ada apa dengan perubahan Ayah? Jika salah, kami segera minta maaf untuk perbaiki diri. Jika Ayah tengah ada masalah pekerjaan agar kami tidak berulah, atau mengganggu Ayah.
Berbeda dengan anak zaman now. Mereka tidak peka, peduli, dan cepat tanggap, ketika orangtua berubah sikap atau berdiam diri. Sebaliknya, banyak anak bersikap masa bodoh, makin tak karuan, dan kebablasan.
Sebagai orangtua, kita pun dituntut bijak untuk ikuti perubahan zaman. Jika anak tidak pahami perubahan sikap orangtua, ya, kita tidak harus mendiamkan dan menjauhi mereka. Sebaliknya, kita yang berperan aktif untuk memeluk mereka dengan cinta.
Kita juga jangan takut, jika anak salah menafsirkan kebaikan orangtua. Sehingga anak berbesar kepala, lupa diri, dan kebablasan. Lebih bijak kita mengalah untuk dekati anak, memahami, dan mengarahkannya.
Bersikap tegas pada anak itu tidak berarti kita memaksakan kehendak dan otoriter. Tapi yang terutama dan penting adalah perbuatan anak agar tidak menyimpang, merugikan orang lain, dan tidak melanggar hukum.
Sebagai orangtua, kita jangan lelah mengingatkan dan mendoakan anak dengan kasih. Karena Allah yang mampu mengubah hati.
Dengan bersyukur dan berserah pada Allah, kita melepas beban pikiran ini. Kita menjadi lebih peka dan tanggap untuk memahami rencana dan kehendak Allah dalam hidup ini.
Dengan melayani dan mengasihi keluarga, kita belajar untuk menjalani hidup secara tulus dan ikhlas.
Melepas beban persoalan dan pikiran, karena kita percaya Allah teguhkan hati ini. Kita jadi sabar, tabah, dan rendah hati.
Selalu percaya pada kehendak Allah, karena IA memberikan yang terbaik untuk kita.
…
Mas Redjo

