Fr. M. Christoforus, BHK
“Di Negeri ini, jangankan cuma ijazah yang dimanipulasi, harta negara saja bisa diakali agar jadi milik pribadi.”
(Netizen)
…
“Lain lubuk lain ikan, lain padang lain pula belalangnya,” demikian sebuah pepatah petitih dari bangsa kita.
Betapa Unik Bangsa ini
Ternyata sungguh unik karakter warga dari sebuah bangsa besar ini. Bangsa yang selalu menomorsatukan tradisi, baik dari hidup berkeagamaan dan aneka kekayaan ritualnya ini.
Namun faktanya, ibarat jauh panggang dari api. Sungguh, jangan-jangan hanya secara lahiriah ditonjol-tonjolkan, namun secara nurani, kualitas keimanan kita ini patut dipertanyakan.
Wajah Sejati Kita
Tulisan yang bernuansakan rasa miris dan memprihatinkan ini, bertolak dari sebush data riil yang diadakan oleh Peneliti dari Republik Cek, Vit Machancek & Martin Scholec.
Data dan fakta apa yang telah diteliti?
Berdasarkan artikel yang terbit di pelbagai jurnal predator sepanjang tahun (2015 – 2017), bahwa posisi Bangsa Indonesia justru berada di urutan kedua dalam hal ketidakjujuran secara akademik.
Mari Mengoreksi Diri Kita
Adapun tujuan sentral dari tulisan ini tidak bertendensi untuk mengadili, mengucilkan, atau pun memberikan cap negatif kepada warga bangsa kita, namun hanya sebagai sebuah cambuk yang bersifat mengkritisi, merefleksi, dan mengoreksi diri sebagai warga sebuah bangsa.
Ternyata posisi ketidakjujuran akademik bangsa kita justru berada pada posisi kedua dari sejumlah Bbangsa lain.
Berikut ini akan ditampilkan sejumlah reaksi spontan dari para netizen.
- Memalukan, miris, dan sedih.
- Di Indonesia semua bisa diatur, termasuk penghuni Surga.
- Di mana ada duit, gelar bisa dibeli.
- Teruji dan terbukti.
Camkan dan cermatilah dari sejumlah pernyataan berupa isi nurani sejumlah para warga bangsa kita.
Berbaur menyatu aneka perasaan dan pemikiran dari sejumlah kecil para netizen. Dominan antara, rasa miris, malu, dan sedih.
Bagi saya, semua reaksi spontan dan perasaan keprihatinan itu adalah sebentuk otodidak.
Artinya sebagai warga dan sesama anak bangsa, kita telah bersikap berani untuk mengeritik diri kita sendiri.
Bahwa itulah realitas rendahnya kualitas tingkat kejujuran warga kita dalam melakukan karya ilmiah, berupa tampilan penulisan jurnal ilmiah. Dapat dikonklusikan, bahwa itulah sebentuk penipuan akademik!
Sesungguhnya itulah tampilan wajah riil kita di mata dunia.
Faktor atau misteri apa yang menyebabkan kita bersikap tidak jujur di dalam berkarya?
Mari kita kembali ke dapur keluarga sendiru. Bagaimana cara kita mendidik generasi muda? Kualitas kesuriteladanan para orangtua, para pendidikan, dan masyarakat kita?
In te Confido!
…
Kediri,ย 11ย Juliย 2024

