“Meski orang yang menyampaikan kebenaran itu dapat dibungkam. Tapi kebenaran yang diungkapnya itu tidak bisa dipasung, karena kebenaran itu milik-Nya.” -Mas Redjo
Teror itu tidak mengenal kasta. Bisa terjadi pada orang baik atau jahat, apalagi pada mereka yang vokal dan konsisten dalam menyuarakan kebenaran, mengkritisi KKN atau kepincangan kebijaksanaan.
Jika C diteror dengan kepala babi dan tikus terpenggal, saya diteror kesulitan, jika tidak menuruti Bos. Saya disuruh memilih oleh Bos, menuruti permintaan atau dibuang jauh, istilah kerennya dimutasi.
Saya juga ingat nasib seorang rekan, AB yang tidak mau menuruti Bos. AB disekolahkan untuk naik jabatan. Faktanya, seusai pendidikan ia malah disingkirkan dan tidak diberi pekerjaan.
Bagi saya pribadi, dimutasi jauh di tempat terpencil dan kering itu tidak jadi masalah. Persoalannya adalah saya harus meninggalkan keluarga, karena anak-anak sekolah.
Jika menuruti Bos, berarti saya memberi makan keluarga dengan uang haram dengan konsekuensi untuk menghadapi aneka resiko. Cepat atau lambat, kebusukan itu pasti akan tercium dan terbongkar. Akibatnya bisa fatal, saya dipenjara dan keluarga menderita.
Saya akui, persoalan saya memang tidak seberat C. Jika C diteror oleh orang jahat, saya diteror untuk meng-ACC perbuatan jahat. Karena saya bendahara di suatu instansi.
Saya jadi serba salah. Karena Iblis meneror saya untuk menggoalkan proyek itu agar tidak menolak rezeki dan nikmat, jika ingin selamat.
Saya bimbang, khawatir, dan takut. Jika belum mempunyai anak, saya memilih opsi dimutasi atau pindah kerja. Faktanya saya telah diangkat jadi karyawan tetap.
Malam itu, setelah anak-anak tidur, saya menceritakan keinginan Bos agar meng-ACC proyeknya. Istri tidak kaget, bahkan ia menghargai keputusan saya, meskipun dimutasi. Tapi saya menggeleng, menolak.
“Jika kau mengizinkan, saya pilih ke luar dan mandiri. Kau bisa buka salon di rumah, sesuai keahlianmu. Saya mau ngobyek jual beli barang, yang penting halal,” istri tersenyum mengiyakan. Sorot matanya tulus tiada kekhawatiran.
“Saya percaya pada Mas,” katanya sambil menggenggam tangan saya.
“Terima kasih,” saya memeluknya. Bersyukur, karena mempunyai istri penuh pengertian.
Saya makin mantap dan siap sedia menghadapi konsekuensinya, jika menolak keinginan Bos. Meski fakta itu belum terbukti, tapi yang penting istri mendukung untuk menghadapi persoalan itu bersama-sama. Saya juga dapat mengendalikan teror jahat yang terus berkecamuk di hati.
Berani bersikap jujur dan benar untuk musyawarah dan mufakat itu meringankan beban jiwa. Hati ini jadi tentram, tenang, dan damai!
Mas Redjo

