“Bukankah dia ini yang di Yerusalem mau membinasakan barangsiapa yang memanggil nama Yesus ini?” (Kis 9: 21b)
Kita kembali mengenangkan peristiwa bertobatnya Rasul Paulus. Saulus yang dulu amat yakin pada pendiriannya, bahwa iman Kristiani adalah sesat dan membahayakan, kini justru dengan sekuat tenaga dia berusaha mewartakan iman tersebut ke seluruh penjuru dunia.
“Apa yang memicu pertobatan Saulus?”
Perjumpaannya dengan Yesus Kristus, Sang Kebenaran. Hal ini menyadarkan Paulus, bahwa segala sesuatu yang dipercayainya selama ini ternyata salah. Juga hal itu tentu tidak mudah, karena kepercayaan Saulus telah dibentuk melalui lingkungannya dan pembelajarannya yang intensif selama bertahun-tahun di bawah bimbingan guru besar Gamaliel. Jadi tidak mengherankan, bahwa dalam proses ini, Saulus tidak dapat melihat dan tidak makan minum selama tiga hari. Ia mengalami metanoia: perubahan cara berpikir.
Seperti Saulus, kita juga mungkin memiliki pola pikir dan keyakinan yang telah terbentuk dalam perjalanan hidup kita: hal-hal yang diyakini benar, padahal belum tentu benar; hal-hal yang kita kejar dengan sekuat tenaga, padahal belum tentu penting; cara pandang yang keliru tentang diri sendiri maupun orang lain.
Beranikah kita meninggalkan keyakinan, itu ketika dihadapkan pada Sang Kebenaran?
…
Fr. Yohanes Paulus C., CSE
Sabtu, 25 Januari 2025
Kis 22: 3-16 atau Kis 9: 1-22 Mzm 117: 1-2 Mrk 16: 15-18
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
http://www.renunganpkarmcse.com

