Calon Mantu – 24 | Oleh Mas Redjo
Red-Joss.com | “Untuk apa?! Sebenarnya, yang enak itu Pak Jo. Kenapa? Bapak ‘trading’. Bisa mengambil barang dari banyak pabrik. Berbeda dengan saya. Banyak hal yang harus ditangani dan masalahnya komplek, ya, mesin, karyawan, bahan, dan banyak lagi. Peluang dan kesempatan yang Pak Jo sangat menarik, tapi saya tahu kemampuan saya. Tak baik, jika saya paksakan,” kata Pak Hasan sambil menarik nafas panjang. “Tolong, jika Bapak berkenan, boleh sediakan bahannya…,” lanjutnya lirih.
“Saya pikirkan…,” kata saya mengalah. Tak ada guna mendesak Pak Hasan. Saya cukup memahami tipe bisnis Pak Hasan. Bukan tipe penyerang yang berani berinvansi untuk mengembangkan usaha, melainkan sekadar bertahan dan bermain ‘safe’. Pak Hasan tidak senang berspekulasi. Belanja bahan cukup untuk kebutuhan Mingguan. Bahkan jika perlu “ngeteng” alias mengambil bahan sendiri ke importir.
Selain itu, karena pasar yang lesu dan biji plastik yang sulit, banyak pabrik yang mengurangi shift kerja karyawan, mematikan sebagian mesin produksi, hingga karyawan diliburkan.
Ternyata tidak hanya biji plastik murni yang hilang dari pasaran, saya juga merasa kesulitan mencari limbah plastik untuk didaur ulang. Banyak pabrik plastik tidak bersedia menjual limbahnya lagi, karena mau diproses sendiri untuk bahan campur.
Kini Pak Hasan tengah menghadapi masalah keuangan, karena Wen salah langkah. Tidak seharusnya Wen dilepas dalam mengambil keputusan penting. Tapi terus dibimbing dan diarahkan agar insting bisnisnya makin terasah tajam.
Wen juga tentunya lebih berhati-hati dan belajar dari pengalaman ayahnya. Untuk makin cermat mengamati dan mengontrol pembayaran pelanggan yang molor. Wen harus cerdik seperti ular agar tidak tertipu, dan ditinggal pelanggan kabur.
Selanjutnya baca di Calon Mantu – 24 | Ternyata Henry itu…

