Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
…
“Sakit hati sering kita alami, karena ternyata, kita sering salah menilai sesama.”
Seorang dokter hewan yang luar biasa peduli kepada hewan, suatu saat melintasi sebuah jalan raya.
Dia terperanjat, dari kejauhan tampak seekor anjing yang terkapar dan berlumur darah di jalan raya.
Bergegas dan berdebar hatinya, menyaksikan anjing yang hanya mampu beringsut-ingsut di atas aspal itu.
Dengan hati-hati digendongnya anjing yang sekarat itu dan dibersihkannya ceceran darah yang menempel pada bulu-buku halusnya. Dia menyimpulkan, ternyata anjing itu luka-lukanya tidak parah.
Setiba di rumah, anjing itu dirawat, diobati, dan diberinya makanan.
Saat dokter itu hendak mengangkatnya, terkesan anjing itu tidaklah ramah. Ia berontak dan bergerak-gerakkan tubuhnya hendak melarikan diri.
Dia menyimpulkan, bahwa anjing ini sungguh tidak tahu berterima kasih kepada orang yang telah merawat dan menyelamatkannya.
Di tengah malam, dokter itu mendengar pintu rumahnya seolah digaruk-garuk dan didorong-dorong.
Saat pintu itu dibuka, betapa terkejut dan terharunya, karena ternyata, di hadapannya itu tampak dua ekor anjing yang sangat ramah dan bersahabat dengan mengibaskan ekor-ekornya.
Tampak, anjing yang kemarin baru dirawatnya dan juga seekor anjing lain yang sedang berdarah dan terluka berdiri di sampingnya.
Dia terharu dan menyesali umpatannya kemarin. Karena dia ternyata, terlampau cepat menilai, bahwa anjing ini tidak tahu berterima kasih.
Saya, dan mungkin juga anda, seringkali terlampau cepat memberikan cap negatif kepada sesama, hanya karena kita menyaksikan reaksi yang tidak ramah atau sikap acuh tak acuh yang diperlihatkannya.
Lewat peristiwa sepele ini, kita diajak agar tidak gampang mengadili atau menilai negatif kepada orang yang bersikap tidak sesuai dengan harapan kita.
Bukankah, manusia adalah sebuah misteri paling besar di atas bumi ini?!
…
Kediri, 3 Februari 2025

